PALANGKA RAYA, katakata.co.id – Upaya menjaga perdamaian, masyarakat Kalteng memiliki kearifan lokal yang telah lama diyakini masyarakat, yaitu Falsafah Huma Betang, yang dapat diartikan secara sederhana sebagai rumah besar yang dihuni banyak orang dengan beragam agama dan kepercayaan, tetapi tetap rukun nan damai.
Namun belakangan, masyarakat dihebohkan video yang beredar di beberapa grup WhastApp, di mana seseorang yang menggunakan pakaian agamis, salah satu agama, dengan mengeluarkan kalimat yang diduga bagian dari politik Sara (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), dan diduga memojokan salah satu peserta Pilkada Kalteng yang beragama tertentu, disesalkan salah seorang pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng yang mengirimkan tanggapannya kepada wartawan, Sabtu (28/9/2024).
Menurut sumber yang minta namanya tidak disebutkan ini, Kalteng telah sepakat bahwa Falsafah Huma Betang harus dijunjung tinggi. Dalam Falsafah Huma Betang, ada yang namanya Belum Bahadat, yang dijabarkan sebagai saling menghormati dan bertoleransi karena perbedaan.
“Terkait dengan beredarnya video tersebut yang menjadi viral, saya sangat menyesalkan, karena itu sangat berbahaya dan berpotensi memecah-belah persatuan yang sudah terjaga dengan baik. Kita menolak keras upaya memperdagangkan agama untuk kepentingan seseorang, dalam kontestasi pemilihan kepala daerah. Saya selaku umat Islam, tidak setuju syiar agama digunakan untuk tujuan politik praktis,” tegasnya mengakhiri.
Terpisah, Ketua Bawaslu Kalteng Satriadi yang dikonfirmasi via WhatsApp terkait video tersebut apakah bagian dari politik Sara atau tidak, belum dapat menjawab karena sedang berada di luar kota dan di wilayah yang sulit jaringan telekomunikasinya. Namun setelah mendapat tanggapan dari Ketua Bawaslu Kalteng, maka tanggapan itu akan segera ditayangkan dalam pemberitaan berikutnya.
Sementara seperti diketahui, di berbagai pemberitaan banyak kalangan, seperti Bawaslu mewanti-wanti jangan ada politik SARA, karena sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa. (red)


