PALANGKA RAYA, katakata.co.id- Selaku Jurnalis asli suku Dayak, dari daerah aliran sungai Kahayan. Sekali lagi, dengan tegas saya menolak hasil survei yang diduga sarat kepentingan, yang menyebutkan bahwa 88,32 persen mahasiswa menilai figur Rektor yang berasal dari lokal daerah kurang relevan dalam pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya ( UPR )
Kita mengetahui, untuk persyaratan umum calon Rektor UPR, sudah ditetapkan dengan standar tinggi, mulai dari status PNS sebagai Dosen di Perguruan Tinggi, dengan jabatan akademik minimal Lektor Kepala. Hingga pengalaman manajerial paling rendah sebagai Ketua Jurusan di Perguruan Tinggi Negeri.
Kriteria formal yang dikeluarkan panitia pemilihan, seperti kualifikasi Doktor (S3) dan rekam jejak manajerial, sudah sangat tepat dan objektif. Jika ada Akademisi lokal Dayak yang mampu memenuhi syarat ketat tersebut, maka tidak ada alasan untuk mengecilkan peran mereka.
Syarat usia maksimal 60 tahun pada 6 September 2026 dan bebas dari catatan pidana adalah bukti bahwa yang dicari adalah pemimpin bersih, dan banyak tokoh lokal Dayak yang memenuhi kriteria itu.
Persyaratan ini adalah standar nasional. Jadi, ketika ada survei yang mengatakan latar belakang lokal kurang relevan, itu sama saja menghina sumber daya manusia Putra-Putri Suku Dayak, yang sebenarnya sudah memenuhi standar tersebut.
Perlu diingat, memahami karakteristik wilayah dan kebutuhan mahasiswa di daerah adalah nilai tambah yang tidak dimiliki sembarang orang. Karena itu, Rektor dari suku Dayak pasti memiliki kedekatan emosional dan sosiologis dengan Bumi Tambun Bungai, sehingga memiliki beban moral yang tinggi untuk memajukan UPR.
Jangan sampai narasi 88,32 persen mahasiswa menilai figur Rektor yang berasal dari lokal daerah kurang relevan dalam pemilihan Rektor UPR, digunakan untuk menyingkirkan figur-figur lokal suku Dayak, yang sebenarnya secara administrasi dan kualitas sangat mumpuni.
Saya mendorong proses pemilihan Rektor UPR tetap fokus pada adu gagasan dan pemenuhan syarat administratif. Jangan terpengaruh survei yang tidak merepresentasikan suara mahasiswa secara nyata dan terkesan menyudutkan potensi Akademisi lokal Suku Dayak.
Penulis: Ririen Binti – Wartawan Putra Dayak


