PALANGKA RAYA,katakata.co.id – Penanganan perkara dugaan korupsi di sektor pertambangan batu bara yang melibatkan PT Asmin Koalindo Tuhup (PT AKT) terus bergulir. Kejaksaan Agung kembali menetapkan tersangka baru dalam pengembangan kasus yang terjadi di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.
Perusahaan yang diketahui terafiliasi dengan pengusaha Samin Tan itu sebelumnya telah lebih dulu menjadi perhatian aparat penegak hukum. Penyidik kini masih menelusuri berbagai dugaan pelanggaran, termasuk legalitas operasional serta potensi kerugian negara dari aktivitas pertambangan tersebut.
Berdasarkan hasil penyidikan sementara, kegiatan penambangan batu bara oleh PT AKT diduga tetap berlangsung dalam kurun waktu 2016 hingga 2025 tanpa izin yang sah. Padahal, izin Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) perusahaan tersebut telah dicabut melalui keputusan Menteri ESDM pada Oktober 2017.
Dalam perkembangan terbaru, Kejagung menetapkan tiga orang sebagai tersangka, yakni Handry Sulfan selaku Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Rangga Ilung, Bagus Jaya Wardhana sebagai Direktur PT AKT, serta Helmi Zaidan Mauludin yang menjabat sebagai General Manager PT OOWL Indonesia.
Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Syarief Sulaeman Nahdi, mengungkapkan bahwa salah satu tersangka, HS, diduga menerima aliran dana secara rutin dari perusahaan yang terafiliasi dengan PT AKT.
“Tersangka menerima uang bulanan secara tidak sah dari perusahaan yang terafiliasi,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/4/2026) malam.
Menurut Syarief, pemberian uang tersebut diduga berkaitan dengan penerbitan dokumen pelayaran. HS disebut tetap mengeluarkan surat persetujuan berlayar meskipun mengetahui dokumen pengangkutan batu bara tidak memenuhi ketentuan.
Selain itu, tersangka BJW bersama pihak terkait lainnya diduga menggunakan dokumen milik perusahaan lain untuk melancarkan aktivitas penambangan dan ekspor batu bara secara ilegal. Sementara tersangka HZM diduga berperan dalam memanipulasi dokumen uji laboratorium atau Certificate of Analysis (COA) guna meloloskan proses pengiriman.
Ketiga tersangka kini ditahan di Rumah Tahanan Kelas I Cipinang selama 20 hari untuk kepentingan penyidikan. Dalam prosesnya, penyidik juga telah mengamankan sejumlah dokumen pelayaran serta barang bukti elektronik yang diduga berkaitan dengan perkara tersebut.
Di sisi lain, Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah, Hendri Hanafi, membenarkan adanya penetapan tersangka, termasuk pejabat yang bertugas di wilayah Kalteng. “Iya benar, Rangga Ilung. Saya belum mengetahui detail karena penanganannya di Kejagung,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (24/4/2026).
Penulis : WIyandri
Editor : Ardi


