Beberapa hari belakangan ini, nama Budi Arie Setiadi, yang Kembali terpilih menjadi ketua Projo, untuk periode tahun 2025-2030, cukup ramai diberitakan oleh berbagai media. Apalagi Budi Arie ada mengeluarkan pernyataan, logo Projo tidak lagi menggunakan wajah Jokowi. Ia menegaskan perubahan logo ini menjadi langkah transformasi organisasi sekaligus penegasan bahwa Projo tidak mengultuskan individu tertentu.
“Projo akan melakukan transformasi organisasi, yang salah satunya adalah kemungkinan mengubah logo Projo. Logo Projo akan kita ubah supaya tidak terkesan kultus individu. Iya, kemungkinan (bukan logo Jokowi lagi),” ujar Budi Arie kepada wartawan seusai pembukaan Kongres III Projo, ( Sabtu (1/11), mengutip detiknews )
Namun disayangkan, saat wawancara dengan beberapa media, Sabtu (1/11), Budi Arie, mengatakan, bahwa Projo, bukan bermakna Pro Jokowi, dan menegaskan itu hanya asumsi Wartawan yang mengatakan Projo adalah Pro Jokowi.
“ Memang ngga ada, cuma teman-teman media, Projo, Pro Jokowi, karena gampang dilafalkan, Projo itu artinya, negeri dan rakyat “ kata Budi
Hallo Budi Arie yang terhormat, Wartawan mempunyai rekaman, saat Bapak menyampaikan bahwa Projo, adalah Pro Jokowi di tahun 2018.
Menyikapi bersilat lidahnya Budi Arie, yang mengatakan bahwa Projo, bermakna Pro Jokowi, itu hanya asumsi Wartawan. Penulis hanya bisa tersenyum dan semakin memahami, bahwa politik hanya berbicara kepentingan pribadi dan kelompok.
Politik dinamis dan seringkali berubah-ubah, sehingga tidak ada ikatan yang permanen; yang ada hanyalah keselarasan atau pertentangan kepentingan pribadi dan kelompok yang terus-menerus.
Kepentingan abadi: Ini adalah inti dari politik. Teman bisa menjadi lawan dan sebaliknya, karena semuanya didorong oleh kepentingan yang saling berhadapan atau bekerja sama.
Ririen Binti
Pemred katakata.co.id


