SAMPIT, katakata.co.id – Menjelang pergantian Tahun Baru 2026, penjualan kembang api di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, mengalami penurunan omzet yang cukup signifikan. Kondisi ini dirasakan oleh para pedagang musiman yang menggantungkan penghasilan dari momen perayaan malam tahun baru.
Sejumlah pedagang kembang api tampak bermunculan di beberapa titik di Sampit, salah satunya di kawasan Jalan S. Parman, sekitar Taman Kota. Para pedagang ini umumnya hanya berjualan pada momen-momen tertentu, seperti perayaan tahun baru.
Salah seorang pedagang kembang api, Rizky Alvan, mengatakan bahwa dirinya merupakan pedagang musiman yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek daring. Ia mengaku sudah membuka lapak penjualan kembang api sejak 21 Desember 2025.
Menurut Rizky, omzet penjualan kembang api tahun ini mengalami penurunan yang cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut bahkan mencapai sekitar 50 hingga 70 persen.
“Penjualannya jauh menurun dibanding tahun lalu. Sekarang bisa turun sampai 50 sampai 70 persen,” ujar Rizky Alvan.
Ia menilai, salah satu faktor penyebab menurunnya penjualan adalah adanya surat edaran Bupati Kotawaringin Timur yang mengimbau masyarakat untuk tidak merayakan malam pergantian tahun secara berlebihan. Imbauan tersebut dikeluarkan sebagai bentuk empati kepada warga yang terdampak bencana alam di sejumlah daerah di Indonesia.
Akibat kondisi tersebut, Rizky hanya menyediakan dan menjual kembang api dalam skala kecil, dengan kisaran harga mulai dari Rp3.000 hingga Rp180.000 per item. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan minat beli masyarakat yang cenderung menurun.
Meski demikian, Rizky berencana tetap berjualan hingga sekitar 7 Januari 2026 mendatang. Jika masih ada stok kembang api yang tidak habis terjual, ia berencana menyimpannya kembali untuk dijual pada momen Ramadhan tahun depan.
Penulis : Mahsut
Editor : Ririen Binti


