KOTA KINABALU, katakata.co.id— Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN) Provinsi Kalimantan Tengah turut mengambil bagian dalam agenda internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui peringatan Hari Orang Asal Sedunia (Indigenous People Day) yang digelar Borneo Dayak Forum (BDF) pada 21–23 Agustus 2026 di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia.
Kehadiran ICDN Kalteng menjadi bagian dari upaya memperkuat peran dan suara masyarakat Dayak sebagai orang asal Borneo dalam menghadapi berbagai perubahan global, termasuk perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Delegasi ICDN Provinsi Kalimantan Tengah dipimpin Ketua ICDN Kalteng, Dr. Eng. Indrawan P. Kamis, didampingi Wakil Ketua Bidang, Dr. Yulian Sulat dan Ir. Christanto T. Ladju, serta sejumlah pengurus lainnya.
Pertemuan internasional tersebut dihadiri delegasi masyarakat Dayak sebagai penduduk asli Borneo dari tiga negara utama, yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Selain itu, hadir pula peserta dari sejumlah negara lain, di antaranya Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Uni Eropa.

Peringatan Hari Orang Asal Sedunia 2026 mengangkat tema “Indigenous People and AI: Shaping Our Future and Defending Our Rights Through Borneo Dayak Unity and Solidarity.”
Tema tersebut menyoroti tantangan sekaligus peluang yang dihadapi masyarakat adat di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI. Persatuan masyarakat Dayak dinilai menjadi salah satu modal penting untuk memastikan kemajuan teknologi tetap berjalan seiring dengan perlindungan hak-hak masyarakat adat.
Dalam pidatonya, Presiden Borneo Dayak Forum, Datuk Panglima Dr. Jeffrey Kitingan, menekankan pentingnya menggali kembali ancestral intelligence atau kecerdasan warisan leluhur Dayak Borneo yang tersimpan dalam bentuk kearifan lokal dan pengetahuan tradisional ratusan subetnik Dayak.
Menurutnya, warisan pengetahuan tersebut tidak semestinya ditinggalkan ketika masyarakat memasuki era kecerdasan buatan. Sebaliknya, kearifan leluhur dapat menjadi panduan dalam berinteraksi dan menyikapi perkembangan AI yang berpotensi mengubah pola kehidupan manusia.
“Ancestral intelligence merupakan warisan leluhur Dayak Borneo yang harus menjadi panduan dalam berinteraksi dengan Artificial Intelligence, baik saat ini maupun di masa depan,” demikian pokok pesan yang disampaikan Jeffrey Kitingan dalam forum tersebut.
Pertemuan akbar masyarakat Dayak dari berbagai negara itu juga menghasilkan Deklarasi Kinabalu. Deklarasi tersebut memperkuat semangat yang sebelumnya dituangkan dalam Deklarasi Palangka Raya 2025, khususnya mengenai penguatan kedaulatan masyarakat Dayak atas hak-haknya di tanah Borneo.
Selain persoalan hak masyarakat adat, Deklarasi Kinabalu turut menegaskan pentingnya memperkuat persatuan Dayak lintas negara melalui berbagai program strategis.
Salah satu gagasan yang kembali mengemuka adalah pembangunan dan pengembangan pusat peradaban Dayak di Tumbang Anoi sebagai sebuah milestone penting dalam sejarah dan masa depan masyarakat Dayak.
Forum tersebut juga mendorong penguatan 24 Juli sebagai Hari Dayak Internasional, sebagai momentum untuk mempererat persatuan, solidaritas serta kesadaran sejarah masyarakat Dayak di Borneo dan dunia.
Keterlibatan ICDN Kalimantan Tengah dalam forum internasional ini diharapkan semakin memperluas jejaring masyarakat Dayak sekaligus membuka ruang dialog mengenai masa depan masyarakat adat, pelestarian budaya, perlindungan hak-hak tradisional, hingga pemanfaatan teknologi secara bijaksana.
Agenda di Kota Kinabalu tersebut sekaligus menjadi ruang strategis bagi delegasi Dayak dari berbagai negara untuk menyatukan pandangan dan memperkuat solidaritas dalam menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan akar budaya dan identitas leluhur.
Penulis: Wiyandri
Editor : Ardi


