PALANGKA RAYA,katakata.co.id – Sejarah tidak selalu tersimpan dalam lembaran buku yang rapi. Ada yang bertahan dalam tulisan tangan di balik jeruji penjara, dalam foto yang mulai menua, dalam dokumen keluarga, hingga dalam ingatan orang-orang yang mewarisi cerita dari para pelaku sejarah.
Dari jejak-jejak itulah sebuah karya sejarah lahir. Buku berjudul Perjuangan Pemuda Dayak AURI: Kami Datang untuk Kalimantan diluncurkan pada Senin (17/8/2026), bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Buku yang terbit berkat karya tiga penulis yakni Nugroho Tri Widyanto, M.Han, Ferry Ansyari dan Edithia F. Widiarti tersebut menjadi upaya mendokumentasikan kembali kisah heroik 13 penerjun AURI yang melaksanakan operasi penerjunan pertama di Indonesia pada 17 Oktober 1947 di Kalimantan.
Nugroho Tri Widyanto, M.Han., mengatakan, lahirnya buku tersebut tidak terlepas dari sebuah peristiwa yang kembali membuka lembaran sejarah tentang para penerjun yang selama puluhan tahun nyaris terlupakan.
Salah satunya adalah kisah LMU II, Cornelius Willems, salah seorang penerjun dalam operasi tersebut.
Pria yang menjabat Komandan Lanud Iskandar dengan pangkat Letkol Pnb ini menjelaskan, Pada Juli 2025, putri LMU II, Cornelius Willems datang ke Pangkalan Bun. Saat itu, nama LMU II, Cornelius Willems telah diabadikan sebagai nama heritage di Lanud Iskandar. Dalam pertemuan tersebut, keluarga menyampaikan bahwa makam LMU II, Cornelius Willems di Kapuas kerap terendam ketika banjir.
Informasi itu kemudian ditelusuri lebih jauh. Arsip dan dokumen yang ditemukan menguatkan bahwa LMU II, Cornelius Willems merupakan bagian dari sejarah perjuangan penerjun AURI di Kalimantan.
Karena dalam piagam penghargaannya disebutkan bahwa ia layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, dilakukan koordinasi dengan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Makam LMU II, Cornelius Willems kemudian dibuka kembali pada 8 November 2025. Sehari berikutnya, jenazah disemayamkan, dan pada 10 November 2025, bertepatan dengan Hari Pahlawan, ia dimakamkan kembali di TMP Sanaman Lampang dengan upacara militer.

Peristiwa tersebut kemudian memunculkan pertanyaan yang lebih besar: siapa sebenarnya para penerjun yang datang ke Kalimantan pada 1947 itu?
“Ternyata belum banyak generasi muda yang mengetahui sejarah panjang dari 13 penerjun itu. Padahal penerjunan tersebut merupakan penerjunan pertama di Indonesia untuk melawan agresi militer Belanda di Kalimantan. Dari 13 penerjun itu, 11 orang adalah putra Dayak,” ujar Nugroho.
Ketika Laut Diblokade, Langit Menjadi Jalan Perjuangan
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia. Di Kalimantan, perlawanan rakyat terhadap kembalinya Belanda menghadapi persoalan besar. Jalur laut diblokade sehingga pengiriman pasukan dari Jawa menjadi sangat sulit.
Gubernur pertama Kalimantan, Mohammad Noor, kemudian meminta bantuan Kepala Staf Angkatan Udara saat itu, Komodor Udara Suryadi Suryadarma.
Pilihan akhirnya jatuh pada operasi melalui udara.
Marsma TNI (Hor) Tjilik Riwut dipercaya menyiapkan operasi penerjunan tersebut. Sebanyak 72 pemuda disiapkan, dengan 60 di antaranya merupakan putra-putra Dayak. Mereka dikirim ke Maguwo, Yogyakarta, untuk menjalani pelatihan penerjunan menggunakan parasut peninggalan Jepang.
Setelah menjalani latihan, dipilih 14 penerjun untuk menjalankan misi. Namun, satu orang mengundurkan diri menjelang keberangkatan sehingga tersisa 13 penerjun.
Mereka berangkat menggunakan pesawat Dakota dari Yogyakarta menuju kawasan Bukit Sepan Biha pada 17 Oktober 1947.
Misi itu bukan sekedar penerjunan. Para pejuang tersebut membawa tugas penting: membangun komunikasi dengan mendirikan antena radio untuk mendukung operasi udara berikutnya.
Di balik misi tersebut tersimpan kisah keberanian yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.
Salah satunya adalah pengibaran Merah Putih di angkasa oleh Johannes Bitak. Ia mengikat warna merah pada sabuk dan warna putih pada ujung sepatunya. Ketika melompat dari pesawat, dua warna itu berkibar di udara.
Setelah mendarat, ia mencari ranting kayu dan menancapkan Merah Putih.
Sebuah pesan sederhana, tetapi mengandung makna yang begitu dalam: Kalimantan adalah Indonesia.
Gugurnya Iskandar dan Lahirnya Nama Lanud Iskandar
Perjalanan para penerjun tidak berhenti setelah mereka mendarat. Mereka melakukan konsolidasi di Desa Mojang.
Namun, pengkhianatan terjadi. Kepala desa setempat melaporkan keberadaan para pejuang kepada Belanda.
Pasukan Belanda kemudian melakukan penggerebekan.
Letnan Udara Satu Iskandar yang mengetahui serangan tersebut memerintahkan anak buahnya menyelamatkan diri. Ia memilih tinggal dan menghadang pasukan Belanda agar anak buahnya memiliki kesempatan untuk melarikan diri.
Iskandar gugur.
Pengorbanannya kemudian diabadikan menjadi nama Lanud Iskandar di Pangkalan Bun.
“Beliau memerintahkan semua anak buahnya untuk kabur, lari, dan beliau sendiri yang menghadang Belanda. Sehingga beliau gugur pertama setelah penerjunan. Nama beliau kemudian diabadikan menjadi Lanud Iskandar saat ini di Pangkalan Bun,” ungkap Nugroho.
Sebagian penerjun lainnya gugur dalam pertempuran. Mereka yang selamat ditawan Belanda dan dipenjarakan di Nusakambangan.
Ironisnya, dari balik jeruji penjara itulah sebagian kisah perjuangan mereka justru terselamatkan.
Para penerjun menuliskan pengalaman mereka. Catatan-catatan tersebut kemudian diwariskan kepada keluarga dan menjadi salah satu sumber penting dalam penyusunan buku.
Buku yang Dibangun dari Sumber Pertama
Kepala Informasi dan Pengolahan Data (Kainfolahta) Lanud Iskandar, Letda Lek Ferry Ansyari, S.Kom., M.Kom., menjelaskan, buku tersebut tidak disusun berdasarkan cerita yang beredar dari satu orang ke orang lain.
Penulis berusaha kembali kepada sumber pertama.
“Kami kumpulkan dari buku-buku catatan para penerjun. Saat mereka berada di penjara, mereka menulis perjalanan yang mereka alami. Catatan itu kemudian kami compile menjadi satu, sehingga menjadi sebuah cerita yang mungkin selama ini belum pernah disusun selengkap ini,” jelas Ferry.
Proses penelitian telah dilakukan sejak 2018. Dokumen keluarga, arsip Angkatan Udara, foto, catatan para penerjun hingga berbagai literatur lama ditelusuri dan dibandingkan.
Bahkan, sejumlah dokumen yang sebelumnya hanya ditemukan dalam bentuk salinan kembali diteliti hingga sumber aslinya ditemukan.
Upaya tersebut menjadi penting karena buku ini dimaksudkan bukan sekadar sebagai kisah heroik, melainkan sebagai dokumen sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Buku ini sebuah dokumen yang berbicara. Kami tidak membuat konsep berdasarkan cerita orang, tetapi menyusun dokumen sesuai timeline-nya. Jadi fakta yang terjadi kami susun berdasarkan dokumen-dokumen yang ada,” katanya.
Keluarga dan Angkatan Udara Menyatukan Potongan Sejarah
Penyusunan buku ini juga mempertemukan dua sumber penting: keluarga para pejuang dan Angkatan Udara.
Edithia F. Widiarti, cucu Pahlawan Nasional Marsma TNI (Hor) Tjilik Riwut, menyebut kolaborasi tersebut menjadi bagian yang sangat berarti bagi keluarga.
Menurutnya, selama ini keluarga memiliki sejumlah dokumen dan cerita yang diwariskan secara turun-temurun. Di sisi lain, Angkatan Udara memiliki arsip dan dokumentasi lainnya.
Ketika kedua sumber tersebut dipertemukan, potongan-potongan sejarah yang sebelumnya terpisah mulai membentuk gambaran yang lebih utuh.
“Kami cukup senang karena bisa menjalin hubungan baik lagi antara keluarga dengan Angkatan Udara. Bagaimanapun juga, Pak Marsma TNI (Hor) Tjilik Riwut merupakan bagian dari keluarga besar Angkatan Udara. Kami merasa kembali dianggap sebagai keluarga,” ujar Editiya.
Ia mengatakan, proses penelitian juga membuka banyak pengetahuan baru bagi keluarga.
Sejumlah dokumen lama bahkan ditelusuri melalui referensi buku Kalimantan Memanggil yang diterbitkan pada 1958. Daftar pustaka dalam buku tersebut digunakan untuk mencari sumber-sumber lama lainnya, termasuk melalui koleksi buku kuno di Perpustakaan Nasional.
“Banyak informasi yang sebelumnya tidak saya ketahui. Setelah melakukan pertukaran data, foto dan dokumen, kami menemukan cerita-cerita baru yang kemudian bisa kami ungkap dalam buku ini,” tuturnya.
“Kami Datang untuk Kalimantan”
Pemilihan judul Perjuangan Pemuda Dayak AURI: Kami Datang untuk Kalimantan bukan tanpa alasan.
Judul tersebut merupakan jawaban atas semangat perjuangan para pemuda Kalimantan yang meninggalkan tanah kelahirannya, menjalani pelatihan di Jawa, lalu kembali ke Kalimantan untuk mempertahankan tanah air.
Sebelumnya, ide awal buku tersebut sempat menggunakan nama Tjilik Riwut. Namun setelah menelaah lebih jauh, para penulis melihat adanya keterkaitan kuat dengan buku Kalimantan Memanggil karya Tjilik Riwut.
Maka lahirlah judul Kami Datang untuk Kalimantan.
“Kami itu adalah pemuda-pemuda Dayak yang setelah berjuang di Pulau Jawa datang kembali ke Pulau Kalimantan untuk mempertahankan Kalimantan,” kata Nugroho.
Sejarah itu berawal dari ekspedisi 1946 yang menjadi salah satu cikal bakal perjuangan bersenjata di Kalimantan. Marsma TNI (Hor) Tjilik Riwut membentuk kelompok MN 1001 atau Muhammad Nur 1001, sementara Hasan Basri membentuk AURI Divisi 4.
Dari rangkaian perjuangan tersebut kemudian lahir operasi penerjunan pada 1947.
Buku ini juga mengungkap bahwa Kalimantan memiliki posisi sangat strategis dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sebuah Kado untuk Kalimantan
Peluncuran buku pada 17 Agustus 2026 memiliki makna tersendiri.
Buku tersebut diserahkan kepada Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran setelah rangkaian upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Momen itu sekaligus bertepatan dengan hari ulang tahun Gubernur Kalimantan Tengah.
Buku tersebut dipersembahkan sebagai kado bagi Gubernur dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, sekaligus mengenang perjuangan Marsma TNI (Hor) Tjilik Riwut dan para penerjun yang mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan Indonesia.
Cetakan pertama buku tersebut sebanyak 700 eksemplar. Sekitar 660 eksemplar akan disalurkan melalui Dinas Pendidikan untuk didistribusikan kepada sekolah, terutama tingkat SMA dan perguruan tinggi. Selebihnya diperuntukkan bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Lanud Iskandar juga berencana mencetak lebih banyak eksemplar agar sejarah tersebut dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Buku ini bukan dimaksudkan sebagai akhir dari penelitian. Justru menjadi pintu awal untuk menggali kisah-kisah lain yang masih tersembunyi.
“Buku ini tahap awal. Kami berencana membuatnya jilid per jilid. Setelah ini akan kami kembangkan lagi dengan judul lain, tetapi kisahnya bersambung. Kalau ada fakta sejarah baru yang ditemukan, sangat mungkin akan kami keluarkan buku lainnya,” ujar Nugroho.
Agar Sejarah Tidak Kembali Hilang
Di Heritage Lanud Iskandar, sejumlah jejak sejarah itu masih dapat dilihat. Dokumen tulisan tangan para penerjun, pakaian, parasut dan berbagai peninggalan lainnya tersimpan sebagai bagian dari warisan sejarah.
Tempat tersebut terbuka bagi masyarakat pada hari kerja.
Di tengah zaman yang bergerak begitu cepat, keberadaan dokumen-dokumen tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak lahir begitu saja.
Ada nama-nama yang gugur dan tidak sempat melihat Indonesia tumbuh seperti hari ini. Ada mereka yang dipenjara, menulis kisahnya dengan tangan sendiri, agar suatu hari generasi setelahnya mengetahui bahwa pernah ada anak-anak muda yang memilih melompat dari langit demi sebuah keyakinan: bahwa tanah ini adalah Indonesia.
Dan dari situlah buku Perjuangan Pemuda Dayak AURI: Kami Datang untuk Kalimantan mengambil maknanya.
Bukan sekadar tentang masa lalu.
Melainkan tentang bagaimana sebuah bangsa menjaga ingatan, agar pengorbanan para pendahulu tidak hilang ditelan waktu.
“Semoga buku ini menjadi rujukan sejarah bagi generasi muda, bahwa semangat nasionalisme harus tetap kita pupuk demi keutuhan negara dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkas Nugroho.
Penulis/Editor : Ardi


