PALANGKA RAYA, katakata.co.id – Upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan perlindungan satwa liar terus dilakukan melalui pelepasliaran lima individu orangutan Kalimantan ke habitat alaminya di Resort Tumbang Hiran, Seksi Pengelolaan Wilayah II Kasongan, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kalimantan Tengah, Kamis (18/6/2026).
Kegiatan pelepasliaran tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Balai TNBBBR, Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS), serta berbagai mitra nasional dan internasional. Pelepasliaran kali ini menjadi pelepasliaran orangutan ke-47 yang dilakukan dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Palangka Raya.
Kelima orangutan yang dilepasliarkan terdiri dari tiga individu betina dan dua individu jantan yang telah menyelesaikan proses rehabilitasi dan dinyatakan siap untuk hidup mandiri di habitat alaminya. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam memulihkan populasi orangutan Kalimantan sekaligus menjaga kelestarian ekosistem hutan hujan tropis Indonesia.
Setiap individu orangutan yang dilepasliarkan memiliki perjalanan rehabilitasi yang panjang. Salah satunya adalah Himba, orangutan jantan berusia 15 tahun yang ditemukan saat masih bayi dalam kondisi mengalami luka bakar akibat kebakaran hutan. Setelah menjalani rehabilitasi selama 14 tahun, Himba berhasil menunjukkan kemampuan bertahan hidup yang baik, termasuk dalam mencari pakan alami dan beradaptasi di lingkungan hutan.
Selain Himba, terdapat Lykke, orangutan betina berusia 23 tahun yang telah menjalani rehabilitasi hampir 22 tahun sejak tiba di Nyaru Menteng bersama induknya saat masih berusia sekitar satu bulan. Sementara itu, Farida, orangutan betina berusia 19 tahun asal Tumbang Samba, menunjukkan kemampuan eksplorasi dan adaptasi yang baik selama masa pra-pelepasliaran. Bersama Nett dan Semeru, kelima individu tersebut kini memulai kehidupan baru di habitat alaminya.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Andi Muhammad Kadhafi menyampaikan bahwa setiap pelepasliaran orangutan merupakan bagian dari upaya bersama dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia.
“Pelepasliaran kali ini merupakan yang ke-47 bersama Yayasan BOS di Kalimantan Tengah. Kami mengapresiasi sinergi dan kerja sama yang terus terjalin dalam mendukung konservasi orangutan dan habitatnya sehingga upaya pelestarian ini dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya saat ditemui awak media, Jumat (19/6/2026).
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite mengatakan bahwa keberhasilan pelepasliaran merupakan hasil dari proses rehabilitasi yang panjang serta dukungan berbagai pihak.
Menurutnya, setiap orangutan yang kembali ke hutan membawa kisah perjuangan yang tidak singkat. Pelepasliaran bukan hanya menjadi akhir dari proses rehabilitasi, tetapi juga awal kehidupan baru di alam liar.
“Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa melalui kolaborasi, ilmu pengetahuan, dan komitmen bersama, upaya menjaga masa depan orangutan dan hutan Indonesia dapat terus dilakukan,” katanya.
Yayasan BOS juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra dan pendukung konservasi, baik dari dalam maupun luar negeri, yang selama ini berkontribusi dalam mendukung program rehabilitasi, pelepasliaran, serta pelestarian habitat orangutan di Indonesia.
Melalui pelepasliaran ini, diharapkan populasi orangutan Kalimantan dapat terus terjaga dan berkembang secara alami, sekaligus memperkuat upaya pelestarian hutan sebagai salah satu penyangga utama kehidupan dan keanekaragaman hayati Indonesia.
Penulis : Wiyandri
Editor : Ardi


