SAMPIT, katakata.co.id – Kerajinan tradisional menjawet atau menganyam rotan menjadi salah satu perhatian Dinas Koperasi UKM Perindustrian Perdagangan Kotawaringin Timur (Kotim) dalam rangkaian Expo Sampit 2026. Upaya ini dilakukan untuk menjaga agar warisan budaya lokal tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
Kepala DKUKMPP Kotim Johny Tangkere, mengatakan menjawet merupakan kerajinan khas daerah yang kini mulai ditinggalkan, terutama oleh generasi muda. Padahal, selain memiliki nilai budaya, menjawet juga menyimpan potensi ekonomi yang besar apabila dikembangkan secara berkelanjutan.
“Menjawet itu menganyam rotan. Sekarang yang bisa kebanyakan orang tua. Kalau tidak diajarkan ke generasi muda, lama-lama bisa hilang. Ini yang ingin kita cegah,” ujar Johny, Kamis (15/1/2026).
Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kotim ini juga menjelaskan, Festival Gelora Kriya Dekranasda yang digelar bersamaan dengan Expo Sampit 2026 menjadi salah satu langkah konkret untuk menghidupkan kembali kerajinan tersebut. Dalam kegiatan itu, digelar perlombaan kerajinan antar kecamatan dengan memperebutkan piala bergilir Ketua Umum Dekranasda.
“Tahun ini juara umum diraih Kecamatan Seranau. Piala bergilirnya juga dibuat oleh pengrajin Dekranasda sendiri, sehingga benar-benar menunjukkan hasil karya kerajinan lokal,” jelasnya.
Meski demikian, partisipasi kecamatan masih dinilai belum maksimal. Dari 17 kecamatan di Kotim, baru tujuh kecamatan yang ikut ambil bagian dalam kegiatan Gelora Kriya tersebut.
“Kita harapkan ke depan semua kecamatan ikut serta. Ini bukan sekadar lomba, tapi upaya pelestarian budaya menjawet agar tetap hidup dan dikenal generasi muda,” kata Johny.
Menurutnya, pelestarian kerajinan daerah merupakan tugas penting Dekranasda yang diketuai Ketua TP PKK Kotim, Khairiah Halikinnor. Kerajinan tradisional perlu terus dilestarikan sekaligus dikembangkan agar mampu bersaing dan memiliki nilai jual.
“Kerajinan daerah jangan sampai habis ditelan zaman. Harus dilestarikan dan dikembangkan supaya tetap relevan,” pungkasnya.
Penulis : Wiyandri
Editor : Ika


