SAMPIT, KATAKATA.CO.ID – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meminta masyarakat menghentikan kebiasaan membakar sampah di pekarangan rumah. Di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), aktivitas tersebut dinilai dapat menjadi sumber api baru.
Kepala DLH Kotim, Marjuki mengatakan, pembakaran sampah rumah tangga tidak boleh dianggap sebagai aktivitas biasa. Api yang terlihat kecil dapat merembet ketika mengenai semak, rumput atau material kering di sekitar lokasi.
“Jangan bakar sampah di pekarangan rumah. Mari kelola sampah dengan benar demi Kotawaringin Timur yang bersih, sehat dan nyaman,” imbau Marjuki, Rabu (12/8/2026).
Selain berpotensi memicu kebakaran, pembakaran sampah juga menghasilkan asap yang dapat memperburuk kualitas udara. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kabut asap akibat karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim.
DLH mendorong masyarakat mulai mengubah cara pengelolaan sampah dari lingkungan rumah. Sampah sebaiknya dipilah dan dibuang melalui fasilitas yang tersedia, termasuk tempat pembuangan sementara (TPS).
Sampah organik juga dapat dimanfaatkan menjadi kompos, sementara sampah yang masih memiliki nilai guna dapat digunakan kembali maupun didaur ulang.
“Sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos, sedangkan sampah yang masih memiliki nilai guna dapat digunakan kembali atau didaur ulang,” jelasnya.
Menurut Marjuki, pencegahan dari lingkungan rumah memiliki peran penting dalam menekan munculnya titik api baru. Terlebih, terdapat kejadian karhutla di sekitar permukiman yang diduga berawal dari aktivitas pembakaran sampah.
Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan. Puntung yang masih menyimpan bara ketika jatuh ke semak atau rumput kering berpotensi memicu kebakaran.
DLH Kotim berharap, masyarakat ikut mengambil peran dalam pencegahan karhutla dengan tidak membakar sampah dan lebih berhati-hati terhadap sumber api selama musim kemarau.
Kesadaran dari setiap rumah tangga dinilai penting untuk mencegah api kecil berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas dan membebani petugas penanggulangan karhutla.
Editor: Juniardi


