SAMPIT, katakata.co.id – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendorong pemilik lahan kosong di kawasan perkotaan Sampit ikut memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Salah satu langkah yang diminta, adalah menyediakan sumur bor di lahan yang mereka miliki. Fasilitas tersebut nantinya dapat menjadi sumber air apabila terjadi kebakaran di sekitar lokasi.
Bupati Kotim, Halikinnor mengatakan, penyediaan sumber air menjadi penting karena kemarau panjang menyebabkan sejumlah sumber air mengalami kekeringan. Kondisi tersebut turut menyulitkan petugas saat melakukan pemadaman.
“Khususnya di daerah perkotaan ini banyaknya tanah kosong pemiliknya di Sampit, ada yang di Surabaya, Jakarta, Semarang. Saya mengintruksikan Camat dan Lurah, agar menginventarisir pemilik-pemilik tanah yang belum dimanfaatkan itu, mereka diwajibkan membangun sumur bor ke depan,” ujar Halikinnor, Sabtu (26/9/2026).
Menurutnya, keberadaan lahan kosong di wilayah kota perlu didata secara lebih baik. Terlebih, sebagian lahan diketahui dimiliki warga yang berdomisili di luar daerah sehingga pengelolaannya tidak selalu dilakukan secara langsung.
Pendataan tersebut akan dilakukan melalui camat dan lurah. Data pemilik lahan diharapkan dapat menjadi dasar pemerintah dalam mendorong penyediaan sarana pendukung pencegahan dan penanganan karhutla.
Halikinnor menjelaskan, sumur bor di sekitar lahan kosong dapat membantu petugas mendapatkan air dengan lebih cepat ketika terjadi kebakaran. Dengan sumber air yang tersedia, waktu petugas tidak banyak terbuang untuk mencari lokasi pengambilan air.
“Jadi apabila terjadi musim kemarau seperti ini atau ada kebakaran, itu maka tidak sulit kita mencari air. Saat ini kesulitan kita, kendala yang kita hadapi pemadaman ini karena sumber airnya tidak ada,” kata Halikinnor.
Ia mengatakan, persoalan keterbatasan sumber air menjadi salah satu evaluasi penting dari penanganan karhutla yang terjadi sepanjang musim kemarau tahun ini.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi pembelajaran agar kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau pada tahun-tahun berikutnya dapat ditingkatkan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
“Harapan kita ke depan ini jadi pelajaran kita tahun ini memang panas sekali. Ini supaya ke depan kita lebih mudah dalam penanganan khususnya kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya.
Penulis/Editor : Juniardi


