Pulang Pisau, katakata.co.id – Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Desa Bukit Liti, Kecamatan Kahayan Tengah, menyebabkan ruas Jalan Lintas Trans Palangka Raya–Kuala Kurun terendam banjir. Genangan air dilaporkan mencapai ketinggian 50 hingga 60 sentimeter dengan panjang titik banjir sekitar 80 sampai 250 meter.
Kondisi tersebut tidak hanya menghambat aktivitas warga dan pengguna jalan, namun juga memunculkan kekhawatiran akan potensi longsor di sekitar permukiman dan badan jalan utama Trans Kalimantan.
Kepala Desa Bukit Liti, Heri Tuah, mengatakan banjir yang terjadi bukan disebabkan meluapnya Sungai Kahayan, melainkan limpasan air hujan dari kawasan perbukitan di belakang desa.
“Air dari atas bukit meluap dan mengalir turun ke desa kami. Karena intensitas hujan tinggi, air langsung masuk ke kawasan jalan dan permukiman,” ujarnya, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, kontur wilayah yang lebih tinggi sekitar 30 meter dari kawasan desa membuat aliran air turun dengan deras menuju permukiman warga. Kondisi jalan yang rusak dan berlubang juga memperparah genangan karena air tertahan di sejumlah titik.
“Air tertampung di lubang-lubang jalan, sehingga genangan semakin parah dan meluas,” jelasnya.
Heri menuturkan, air yang menggenangi ruas jalan Trans Kalimantan saat ini mulai mengalir masuk ke jalan-jalan desa. Kondisi itu dikhawatirkan dapat memicu longsor, terutama di kawasan pinggir Daerah Aliran Sungai (DAS) Kahayan yang sudah mengalami abrasi.
“Yang kami takutkan kalau air terus turun ke kampung lalu mengarah ke DAS Kahayan, itu bisa menyebabkan longsor,” katanya.
Ia mengungkapkan, sebelumnya sudah terjadi longsor di tebing pinggir DAS Kahayan. Bahkan jarak antara titik longsor dengan badan jalan hanya sekitar empat meter.
“Di pinggir DAS Kahayan itu sudah ada longsor akibat abrasi. Jaraknya dengan jalan tinggal sekitar empat meter,” bebernya.
Pemerintah desa bersama masyarakat kini terus memantau perkembangan debit air, terutama jika hujan kembali turun dalam beberapa hari ke depan. Warga berharap ada penanganan cepat agar longsor tidak sampai memutus akses jalan utama di wilayah tersebut.
“Kalau air terus mengalir deras sampai ke DAS Kahayan, kami khawatir jalan bisa amblas dan putus,” pungkas Heri.
Penulis : Wiyandri
Editor : Ika


