SAMPIT,katakata.co.id- Tingginya kasus serangan buaya di Kabupaten Kotim mendorong pemerintah daerah setempat untuk segera bertindak. Mulai dari penyediaan air bersih hingga rencana penangkaran buaya dianggap sebagai solusi menekan potensi konflik antara buaya dan manusia.
Potensi konflik buaya dengan manusia di Kabupaten kian mengkhawatirkan seiring meningkatnya jumlah kasus serangan. Berdasarkan data balai konservasi sumber daya alam resor sampit sejak 2010 hingga tahun 2025 tercatat ada 52 kasus serangan buaya, sembilan diantaranya merenggut nyawa.
Bupati Kotim, Halikinoor mengatakan, Serangan buaya banyak terjadi di sepanjang aliran Sungai Mentaya yang menjadi urat nadi kegiatan warga sehari-hari. Situasi ini mendorong pemerintah daerah untuk melakukan berbagai langkah pencegahan.
“Satu diantaranya dengan menyediakan akses air bersih agar warga tak lagi mengandalkan sungai untuk aktivitas mandi, mencuci hingga buang air,” Katanya.
Upaya lain adalah dengan mengusulkan kepada kementerian lingkungan hidup dan kehutan untuk membangunan penangkaran buaya di daerah setempat.
“Meningkatnya potensi serangan buaya diduga karena populasinya yang terus bertambah, rusaknya habitat buaya turut menyebabkan satwa predator itu sering muncul di sekitar permukiman warga untuk mencari makan,” ungkapnya. (bah/red)


