PALANGKA RAYA, Katakata.co.id – Kepada Yang Terhormat,
Presiden Republik Indonesia
Bapak Prabowo Subianto
Di Tempat
Dengan hormat,
Perkenalkan, saya Ririen Binti, seorang wartawan yang tinggal dan berkarya di tanah Borneo. Selama 30 tahun, saya telah membaktikan hidup terlibat merawat arus informasi.
Sebagai Wartawan, saya menyuarakan aspirasi masyarakat daerah melalui fungsi kontrol sosial yang kokoh. Semua saya lakukan dengan berpedoman pada UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
Melalui surat terbuka ini, saya ingin menyampaikan rasa sedih yang mendalam. Perasaan ini muncul setelah mendengar ucapan Bapak yang menyematkan label “Londo Ireng” kepada profesi jurnalis. Profesi yang sangat kami banggakan ini adalah pilar keempat demokrasi.
Di tengah dinamika hubungan pemerintah dan media, ada satu hal fundamental yang harus saya tegaskan: Kami wartawan bukan pengkhianat bangsa, bukan pula kaki tangan asing.
Sejarah mencatat dengan tinta emas bagaimana perjuangan jurnalis bumiputera. Jauh sebelum kemerdekaan diproklamasikan, mereka telah mengangkat pena sebagai senjata utama.
Sebagaimana wejangan ikonis dari Bapak Pers Nasional kita, Tirto Adhi Soerjo:
“Pers tugasnya memajukan persatuan, mencari kemajuan, dan menyuarakan suara-suara yang tak terdengar.”
Melalui tulisan, para jurnalis terdahulu membakar semangat perlawanan rakyat terhadap penjajah. Senior-senior kami Jurnalis ikut andil mendirikan, merawat, dan memerdekakan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Mereka berjuang demi bangsa, bukan demi kepentingan asing.
Tugas wartawan bukanlah untuk memuji tanpa dasar. Kami adalah mata, telinga, dan penyambung lidah publik. Kritik serta analisis kami adalah bentuk kecintaan tertinggi pada NKRI.
Hal ini kami lakukan demi memastikan pemerintahan tetap berada di rel demokrasi, transparansi, dan keadilan. Kritik yang objektif bukanlah bentuk makar atau pengkhianatan. Kritik adalah instrumen kontrol sosial yang sah dan dilindungi oleh undang-undang.
Selama tiga dekade, Sepuluh ribuan berita yang menjadi hasil karya saya. Tidak ada satu pun berita yang menjadikan saya pengkhianat bangsa. Justru, setiap pemberitaan yang lahir dari jemari saya adalah wujud cinta dan hormat yang utuh kepada coretan sejarah bangsa ini.
Bapak Presiden yang saya hormati, narasi “Londo Ireng” sangat berisiko menciptakan stigma negatif. Label ini dapat memperkeruh iklim kebebasan pers yang telah kita perjuangkan bersama sejak era reformasi.
Saya mengetuk hati Bapak Presiden untuk merangkul wartawan sebagai mitra strategis dalam membangun bangsa. Menjaga kemerdekaan pers adalah bagian mutlak dari menjaga marwah demokrasi Indonesia.
Terima kasih atas perhatian Bapak Presiden. Dengan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga Indonesia selalu dipimpin dengan kearifan, kebijaksanaan, dan kepala dingin dalam menerima setiap masukan.
Hormat saya,
Ririen Binti
Wartawan dari Tanah Borneo


