SAMPIT, katakata.co.id – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui udara masih menghadapi kendala. Kabut asap yang pekat membuat jarak pandang di wilayah Sampit hanya sekitar 800 meter, sehingga helikopter water bombing belum dapat beroperasi secara maksimal.
Satu unit helikopter water bombing saat ini disiagakan di Bandara H Asan Sampit untuk mendukung penanganan karhutla, khususnya pada titik-titik yang sulit dijangkau oleh tim pemadam melalui jalur darat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Imam Subekti mengatakan, operasi water bombing sebelumnya telah dilakukan di kawasan Desa Rawa Sari, Kecamatan Pulau Hanaut dan Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang.
Namun, kondisi jarak pandang yang rendah membuat pengerahan helikopter harus mempertimbangkan aspek keselamatan penerbangan.
“Karena per hari ini masih 800 meter, enggak feasible dia. Water bombing itu minimal 4.800 meter, minimal itu. Kalau di bawah itu, ya jelas enggak diizinkan sama menara,” jelas Imam.
Menurutnya, operasi udara tidak dapat dipaksakan apabila kondisi cuaca dan jarak pandang belum memenuhi persyaratan. Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan apakah helikopter dapat diterbangkan untuk melakukan pemadaman.
Padahal, keberadaan water bombing dibutuhkan untuk menjangkau lokasi kebakaran yang sulit ditangani dari darat, terutama titik-titik yang berada di sekitar kawasan sungai atau lokasi dengan akses terbatas.
“Ya titik-titik yang memang dari sungai itu dekat, terus tim darat kesulitan,” ujarnya.
Kondisi tersebut juga memengaruhi rencana pengerahan helikopter tambahan ke Kotim. Dari rencana dua unit helikopter yang diharapkan dapat mendukung penanganan karhutla di daerah ini, baru satu unit yang dapat disiagakan di Sampit.
“Kita baru satu aja yang bisa, satunya masih di Pangkalan Bun. Satunya ada di Palangkaraya, sama. Mereka enggak bisa geser semua. Pangkalan Bun juga enggak bisa, Kotim enggak bisa, Palangka Raya juga enggak bisa,” ungkapnya.
Sambil menunggu kondisi jarak pandang membaik, penanganan karhutla tetap dilakukan melalui jalur darat. Satgas Penanganan Karhutla Kotim mengerahkan personel dari berbagai unsur untuk menjangkau titik-titik kebakaran.
Tim tersebut melibatkan Pemerintah Kabupaten Kotim, TNI, Polri, Manggala Agni serta unsur lainnya. Penanganan dari darat terus dilakukan untuk mencegah api meluas, sementara operasi water bombing akan kembali dimaksimalkan apabila kondisi penerbangan memungkinkan.
Penulis/Editor : Juniardi


