SAMPIT, katakata.co.id – Warga Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dibuat heran dengan kondisi langit yang tampak menguning hingga kemerahan pada Kamis (24/9/2026). Fenomena tersebut terjadi saat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti wilayah kota.
Selain membuat jarak pandang turun hingga sekitar 100-300 meter, pekatnya asap juga membuat suasana siang hari terlihat berbeda. Cahaya matahari tampak lebih kuning, sementara udara terasa kurang nyaman untuk dihirup.
“Cahaya siang ini terasa lebih kuning, tidak seperti biasanya. Apa mungkin karena kabut asapnya terlalu pekat, makanya bisa sampai kuning kaya gini,” ujar Bahrul, warga Sampit.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo Menjelaskan, perubahan warna langit berkaitan dengan tingginya konsentrasi partikel asap hasil pembakaran karhutla yang berada di atmosfer.
Asap karhutla membawa partikel berukuran sangat kecil atau aerosol. Ketika konsentrasinya tinggi, partikel tersebut membentuk lapisan asap yang tebal sehingga memengaruhi cara cahaya matahari dihamburkan dan diserap ketika melewati atmosfer.
“Fenomena tersebut biasanya disebut fenomena optik atmosfer, fenomena tersebut diakibatkan oleh interaksi cahaya matahari dengan aerosol partikel asap yang berada di atmosfer,” ujarnya.
Mulyono menyebut, perubahan warna tersebut dapat terlihat semakin kuat ketika posisi matahari relatif rendah. Pada kondisi itu, cahaya matahari melewati lintasan atmosfer yang lebih panjang sehingga interaksinya dengan partikel asap menjadi lebih besar.
Warna langit yang berubah menjadi kuning, oranye hingga kemerahan tersebut bukan menunjukkan adanya perubahan cuaca tertentu. Fenomena itu merupakan efek optik atmosfer yang dipengaruhi oleh kondisi asap di udara.
“Kombinasi antara tingginya konsentrasi aerosol asap, ketebalan lapisan asap, posisi matahari, kelembapan udara, serta karakteristik partikel itulah yang menyebabkan langit terlihat berwarna oranye hingga merah mencolok,” lanjutnya.
Kondisi atmosfer tersebut juga terjadi bersamaan dengan buruknya kualitas udara di Kotim. Berdasarkan data aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), pada pukul 16.00 WIB nilai ISPU PM10 mencapai 1.249, sedangkan PM2,5 berada di angka 649. Keduanya tercatat dalam kategori berbahaya.
Dengan angka tersebut, Kotim tercatat berada di posisi kedua daerah dengan nilai ISPU tertinggi di Indonesia pada waktu pemantauan tersebut. Posisi pertama ditempati Kabupaten Gunung Mas dengan nilai ISPU mencapai 1.950.
Penulis/Editor : Juniardi


