SAMPIT, KATAKATA.CO.ID – Di tengah kemarau panjang dan meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) berencana menggelar salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar untuk memohon turunnya hujan.
Wakil Koordinator III Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim, Rihel mengatakan, rencana tersebut telah dibahas bersama dan diupayakan dapat dilaksanakan dalam waktu dekat.
“Kami sudah berunding kemarin, mudah-mudahan dilakukan kalau memang ada kesempatan dan waktunya. Rencananya mungkin malam Minggu. Jadi mudah-mudahan dengan salat Istisqa itu hujan bisa turun di wilayah kita,” kata Rihel, Sabtu (15/8/2026).
Meski rencana pelaksanaan telah dibahas, lokasi salat Istisqa masih belum ditentukan. Beberapa lokasi yang menjadi pertimbangan di antaranya Rumah Jabatan Bupati Kotim maupun halaman Kantor Bupati Kotim.
“Untuk lokasinya belum tahu, mungkin di Rujab Bupati Kotim, atau di halaman Kantor Bupati seperti yang dulu pernah kita laksanakan,” ujarnya.
Menurut Rihel, salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar pemerintah bersama masyarakat menghadapi kondisi kekeringan yang semakin menyulitkan penanganan karhutla.
Kondisi sumber air yang mulai terbatas membuat proses pemadaman di sejumlah titik menjadi lebih berat. Terlebih, kebakaran masih terjadi di berbagai wilayah Kotim.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hingga 14 Agustus 2026, tercatat 302 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 496 hektare. Sementara jumlah titik panas atau hotspot telah mencapai 2.707 titik.
Penanganan karhutla saat ini terus dilakukan melalui operasi darat. Upaya tersebut juga mendapat dukungan operasi udara berupa helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah masih harus menghadapi ancaman kemarau yang diperkirakan belum segera berakhir.
Rihel menyebut, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau di Kotim diperkirakan berlangsung hingga September 2026.
“Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau itu sampai dengan bulan September dan itu adalah puncaknya untuk kemarau,” jelasnya.
Pemerintah masih menunggu pembaruan prakiraan BMKG untuk mengetahui apakah periode puncak kemarau tersebut akan mengalami perubahan.
“Nanti mungkin di September minggu kedua atau minggu kesatu nanti ada dirilis ulang lagi, apakah puncak kemarau maju atau mundur. Sampai dengan saat ini belum ada informasi bahwa itu maju atau mundur,” terang Rihel.
Editor: Juniardi


