SAMPIT, katakata.co.id – Lebih dari dua bulan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Selain membakar lahan, kondisi tersebut turut mengganggu berbagai aktivitas masyarakat akibat kabut asap dan memburuknya kualitas udara.
Dampaknya terasa di sejumlah sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan hingga transportasi. Ketika konsentrasi asap meningkat, aktivitas masyarakat harus menyesuaikan dengan kondisi udara di masing-masing wilayah.
Pada sektor kesehatan, paparan asap menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Kondisi tersebut turut berdampak pada meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Sementara di bidang pendidikan, kondisi udara menjadi salah satu pertimbangan sekolah dalam menentukan pelaksanaan pembelajaran. Ketika kabut asap semakin pekat dan kualitas udara berada pada level yang membahayakan kesehatan, kegiatan belajar tatap muka dapat dialihkan menjadi Belajar Dari Rumah (BDR) atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Gangguan juga dirasakan pada sektor transportasi udara. Kabut asap yang menurunkan jarak pandang di sekitar Bandara H Asan Sampit dapat menyebabkan penerbangan mengalami keterlambatan hingga pembatalan demi alasan keselamatan.
Bupati Kotim, Halikinnor mengatakan, kondisi sekolah dan penerbangan dapat menjadi gambaran sederhana mengenai perkembangan penanganan karhutla. Menurutnya, membaiknya kedua aktivitas tersebut akan menunjukkan kondisi asap mulai berkurang.
“Makanya harapan kita, saya bilang tadi, barometer kita mudah-mudahan dalam waktu dekat anak-anak sekolah bisa tatap muka belajar, tidak lagi dengan sistem daring atau belajar jarak jauh,” ujar Halikinnor, Selasa (29/9/2026).
Ia juga berharap aktivitas penerbangan di Bandara H Asan Sampit dapat kembali berjalan normal. Jika pesawat sudah dapat beroperasi tanpa gangguan jarak pandang, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kabut asap mulai menurun.
“Dan mudah-mudahan bandara kita bisa didarati pesawat. Itu tandanya bahwa barometer itu bahwa kondisi Karhutla kita bisa tertangani dengan baik dan asap sudah berkurang,” katanya.
Di tengah penanganan yang masih berlangsung, Halikinnor menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel Satgas Penanganan Karhutla yang bekerja di lapangan. Ia mengingatkan para petugas agar tidak mengabaikan kesehatan dan keselamatan selama menghadapi api maupun asap.
“Saya terima kasih kepada semua pihak, terutama satgas karhutla di garis terdepan, mereka ujung tombak, berhadapan langsung dengan api dan asap. Saya terima kasih sekali. Dan saya juga mengingatkan mereka selalu jaga kesehatan dan jaga keselamatan, itu yang utama,” ungkapnya.
Halikinnor juga kembali meminta masyarakat, untuk tidak melakukan pembakaran lahan. Menurutnya, kebakaran yang dipicu oleh aktivitas pembakaran dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih luas, terutama ketika wilayah masih menghadapi musim kering dan penanganan karhutla belum selesai.
“Sekali lagi saya mengimbau masyarakat, jangan ada membakar. Karena ada beberapa yang jadi tersangka dan itu mungkin ada juga yang indikasi itu memang ada sengaja membakar lahan. Jangan sampai itu dilakukan karena kepentingan seseorang, tapi malah merugikan orang banyak,” tegasnya.
Pemerintah daerah bersama Satgas Karhutla masih melanjutkan upaya pemadaman dan pencegahan agar titik kebakaran tidak kembali meluas. Kondisi udara dan aktivitas masyarakat akan terus menjadi bagian dari evaluasi penanganan karhutla di Kotim.
Penulis/Editor : Juniardi


