SAMPIT, KATAKATA.CO.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) menambah cadangan anggaran untuk menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang masih melanda sejumlah wilayah.
Melalui perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026, pemerintah daerah menyiapkan tambahan Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp2 miliar. Dengan tambahan tersebut, total BTT Kotim menjadi Rp7 miliar dari sebelumnya Rp5 miliar.
Bupati Kotim, Halikinnor mengatakan, tambahan anggaran diperlukan untuk memperkuat penanganan bencana, termasuk mendukung pengerahan armada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam menyuplai air ke lokasi karhutla.
“Saya sudah instruksikan ke Sekda terkait penambahan anggaran BTT Rp2 miliar di perubahan APBD 2026, agar penanganan karhutla bisa lebih optimal,” kata Halikinnor, Jumat (21/8/2026).
Kebutuhan anggaran dinilai semakin penting karena karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim dan telah menyebabkan kabut asap. Pada saat yang sama, kemarau panjang juga memicu krisis air bersih di sejumlah kecamatan, terutama wilayah selatan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam menjelaskan, BTT murni yang tersedia dalam APBD 2026 sebelumnya sebesar Rp5 miliar. Tambahan Rp2 miliar tersebut akan menjadi cadangan untuk menghadapi kebutuhan darurat.
“Kalau BTT murni 2026 ada sebesar Rp5 miliar, oleh Bupati di perubahan ditambahkan Rp2 miliar BTT itu sebagai cadangan, jadi totalnya Rp7 miliar,” jelasnya.
Meski demikian, Multazam menegaskan, seluruh dana BTT tersebut tidak otomatis diperuntukkan khusus bagi penanganan karhutla. Pemanfaatannya akan disesuaikan dengan kondisi darurat dan kebijakan pemerintah daerah.
“Itu nanti kebijakan Bupati. Jadi kalau kita sampai akhir tahun kami tidak bisa prediksi. Tapi kita akan lakukan kalkulasi terus setiap hari bagaimana memotret pembiayaan,” ujarnya.
Berdasarkan data BPBD Kotim, sepanjang Januari hingga 20 Agustus 2026 telah terjadi 401 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai lebih dari 1.394 hektare.
Pada periode yang sama, jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau mencapai 6.139 titik.
Untuk menangani kebakaran tersebut, BPBD Kotim saat ini mengerahkan sedikitnya 138 personel. Jumlah itu masih dapat ditambah dengan melibatkan personel nonregu apabila terjadi lonjakan kejadian.
“Kalau kita bilang cukup dan tidak cukup personel itu relatif pada situasi kejadian. Kalau seperti kemarin tanggal 17 ada 17 kejadian karhutla, sehingga yang hadir bukan seregu lagi, yang nonregu yang kita naikkan,” ungkap Multazam.
Editor : Juniardi


