SAMPIT, katakata.co.id – Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami penurunan drastis. Pada Jumat pagi (28/8/2026), indeks pencemaran udara tercatat menembus angka 300 dan masuk dalam kategori berbahaya.
Berdasarkan data aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup, kondisi tersebut terpantau sekitar pukul 07.00 WIB. Parameter PM2,5 tercatat mencapai 347, sedangkan PM10 berada di angka 367.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kualitas udara dalam kategori berbahaya berpotensi menimbulkan dampak terhadap kesehatan masyarakat, sekaligus memengaruhi lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim, Marjuki, membenarkan adanya peningkatan pencemaran udara tersebut. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh kondisi udara yang semakin memburuk.
“Udara pada kategori berbahaya dapat memberikan dampak serius bagi kesehatan manusia, serta berdampak terhadap hewan dan tumbuhan,” ujar Marjuki.
Peningkatan pencemaran terjadi setelah sebelumnya kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. Kondisi tersebut kemudian memburuk hingga masuk kategori sangat tidak sehat dan akhirnya mencapai level berbahaya.
Tidak hanya PM2,5, konsentrasi PM10 juga mengalami peningkatan signifikan. Tingginya kedua parameter tersebut menunjukkan udara di Kotim sedang berada dalam kondisi yang perlu diwaspadai.
DLH Kotim meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, khususnya kelompok yang lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara seperti anak-anak, lanjut usia dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
“Masyarakat diimbau untuk menghindari aktivitas di luar ruangan, khususnya kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan,” katanya.
Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan. Aktivitas fisik berat di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi ketika kualitas udara masih berada pada level berbahaya.
Marjuki turut meminta masyarakat tidak melakukan kegiatan yang dapat menambah pencemaran udara. Pembakaran sampah maupun pembukaan lahan dengan cara membakar harus dihindari, terlebih di tengah kondisi karhutla yang masih terjadi.
“Jaga lingkungan tetap bersih dan sehat,” imbaunya.
Memburuknya kualitas udara tersebut terjadi bersamaan dengan masih tingginya aktivitas kebakaran hutan dan lahan di Kotim. Asap dari karhutla menjadi salah satu persoalan yang perlu segera ditangani agar kualitas udara tidak semakin memburuk dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan kondisi lingkungan yang lebih aman.
Editor : Juniardi


