SAMPIT, katakata.co.id – Krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng). Sebanyak 17 truk berisi air bersih dikirim untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak kemarau panjang.
Pendistribusian bantuan tersebut dilepas langsung Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, di kawasan Taman Kota Sampit, Jumat (28/8/2026). Pelepasan dilakukan bersamaan dengan kunjungan kerja gubernur ke Kotim bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin dan Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan.
Agustiar mengatakan, bantuan air bersih tersebut merupakan bentuk respons pemerintah terhadap kondisi masyarakat yang mulai kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kami datang ke Sampit ini selain memantau air bersih yang agak kekeringan, kami kirim hari ini sebanyak 17 truk air bersih,” ujar Agustiar.
Kemarau panjang yang berlangsung di Kotim tidak hanya meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan. Sejumlah wilayah juga mulai mengalami kesulitan air bersih karena sumber air masyarakat mengalami penurunan.
Kondisi tersebut terutama dirasakan masyarakat di wilayah selatan Kotim. Sebagian warga masih mengandalkan air hujan sebagai salah satu sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Situasi semakin sulit ketika sumber air sungai mengalami perubahan kualitas akibat masuknya air laut. Air yang menjadi asin tersebut tidak lagi dapat digunakan masyarakat untuk kebutuhan konsumsi.
Dengan dikirimnya 17 armada air bersih, pemerintah berharap kebutuhan dasar warga di wilayah terdampak dapat terbantu selama kondisi kemarau masih berlangsung.
Bantuan tersebut juga menjadi bagian dari penanganan dampak kemarau secara menyeluruh. Pemerintah tidak hanya berupaya mengendalikan karhutla, tetapi juga memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar, khususnya air bersih.
Pemprov Kalteng diharapkan dapat terus berkoordinasi dengan Pemkab Kotim dalam memetakan wilayah yang mengalami krisis air, sehingga distribusi bantuan dapat diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan.
Editor : Juniardi


