KAPUAS, KATAKATA.CO.ID – Penurunan angka stunting di Kabupaten Kapuas kembali mendapatkan dukungan melalui pelaksanaan Gerakan GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stanting). Program ini digagas oleh tim dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus inovasi dalam pemanfaatan ikan lokal bergizi tinggi.
Kepada Wartawan, Sabtu ( 13/12-2025 ), ketua tim program Norhayani, S.Pi, M.Si, yang didampingi dua anggota, yakni Dr. Maryani, S.Pi, M.Si, dan Linda Wulandari, S.Pi, MS mengatakan Kegiatan ini berfokus pada edukasi gizi, pelatihan pengolahan ikan gabus, serta pemberdayaan kelompok ibu rumah tangga dan remaja. Ikan gabus dipilih sebagai bahan pangan utama karena memiliki kandungan protein yang tinggi termasuk albumin, sehingga sangat bermanfaat untuk menunjang pertumbuhan anak, khususnya balita berisiko stunting.
“ Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan stanting adalah perlu adanya inovasi yang tidak hanya menyentuh aspek gizi, tetapi juga sosial dan ekonomi masyarakat “ tegas Norhayani
Norhayani menambahkan, tahapan kegiatan diawali dengan koordinasi untuk memastikan lokasi tepat sasaran bersama pemangku kepentingan, dilanjutkan dengan sosialisasi, pembentukan kelompok orang tua asuh. Pada kegiatan sosialisasi diberikan penjelasan tentang pentingnya pemenuhan gizi anak, peran protein hewani, dan potensi ikan gabus sebagai bahan pangan unggulan lokal. Antusiasme peserta muncul ketika mereka mengetahui kandungan albumin tinggi pada ikan gabus yang terbukti bermanfaat untuk pertumbuhan anak.
Lanjut Norhayani, di hari berikutnya kegiatan yang digelar adalah pelatihan pengolahan produk olahan berbasis ikan gabus. Para peserta mendapat keterampilan membuat produk pangan seperti bakso, nugget dan abon ikan gabus yang tidak hanya bergizi, tetapi juga disukai anak-anak.
“ Pelatihan dilakukan secara praktis sehingga setiap peserta dapat membuat/memproduksi sendiri di rumah. Selain teknik pengolahan, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai sanitasi pangan, pengemasan, pelabelan, hingga pemasaran sederhana. Materi ini dirancang agar produk yang dihasilkan tidak hanya dikonsumsi keluarga, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan berpotensi menjadi usaha rumahan “ tambah Norhayani
Menurut Norhayani, pendekatan berbasis pangan lokal seperti ini membuat masyarakat lebih mudah mempraktikkan dan meneruskan program. Ikan gabus tersedia secara lokal, harganya terjangkau, dan bisa dikembangkan menjadi peluang usaha. Dan Hasil kegiatan menunjukkan dampak yang signifikan. Berdasarkan evaluasi pre-test dan post-test, terjadi peningkatan pengetahuan gizi masyarakat sebesar 40%. Peningkatan ini menjadi indikator keberhasilan program dalam mengubah kebiasaan makan keluarga dan memberikan asupan protein hewani yang lebih baik bagi anak.
“ Program GENTING juga menciptakan peluang ekonomi baru. Kelompok masyarakat pengolah ikan gabus mulai memproduksi dan memasarkan produk secara lokal, sehingga memberikan tambahan pendapatan sekaligus menggerakkan rantai pasok ikan gabus di daerah tersebut “ imbuh Norhayani.
Sementara itu, anggota tim lainnya Dr. Maryani, S.Pi, MSi, menambahkan, keberhasilan kegiatan ini tidak terlepas dari peran aktif masyarakat, selain itu kegiatan ini dapat menambah pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah berbagai macam produk olahan berbasis ikan gabus untuk pemenuhan gizi anak-anak, serta ikut berperan sebagai agen perubahan dalam perbaikan gizi anak.
Menurut Dr. Maryani, program yang didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Palangka Raya melalui Program Dosen Pendamping Wirausaha Masyarakat (PDPWM) tentunya memberikan hasil yang positif.
“ Gerakan GENTING diharapkan dapat direplikasi di desa-desa lain sebagai model intervensi gizi berbasis pangan lokal yang berkelanjutan. Program ini sekaligus memperkuat komitmen daerah dalam mempercepat penurunan angka stunting serta mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan mandiri secara ekonomi “ tegas Dr. Maryani.
Menutup pernyataannya, Norhayani, S.Pi, M.Si, Kembali menegaskan, program ini dipandang sebagai model pemberdayaan gizi lokal yang memungkinkan untuk direplikasi di desa maupun kabupaten lainnya. Dengan capaian yang diperoleh, Gerakan GENTING diharapkan menjadi kontribusi nyata mengatasi permasalahan stunting di Kalimantan Tengah, sekaligus menguatkan ketahanan pangan berbasis potensi lokal imbuhnya.


