SAMPIT, katakata.co.id – Kemarau panjang yang belum kunjung berakhir, mendorong ratusan warga Muhammadiyah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melakukan ikhtiar spiritual dengan menggelar Shalat Istisqa, Jumat (4/9/1026).
Sekitar 300 orang yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, warga dan simpatisan Muhammadiyah mengikuti salat berjamaah di halaman Universitas Muhammadiyah Sampit (Umsa). Kegiatan tersebut diinisiasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kotim.
Shalat Istisqa dilaksanakan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar hujan segera turun. Kekeringan yang berlangsung lebih dari dua bulan, telah berdampak pada berbagai aktivitas masyarakat dan turut memperparah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Rektor Umsa, Ramadansyah mengatakan, pelaksanaan Shalat Istisqa merupakan salah satu bentuk usaha yang dapat dilakukan umat, di tengah kondisi daerah yang sedang menghadapi kemarau panjang.
“Alhamdulillah hari ini atas inisiatif PDM, bertempat di halaman Umsa, kami melaksanakan Shalat Istisqa untuk memohon ampunan dan rahmat dari Allah agar segera diturunkan hujan,” ujar Ramadansyah.
Menurutnya, dampak kemarau tidak hanya terlihat dari kekeringan. Karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Kotim juga menghasilkan kabut asap, yang mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat.
Kondisi tersebut turut dirasakan mahasiswa. Salah seorang mahasiswa Umsa, Muslimah, mengaku mengikuti Shalat Istisqa karena prihatin terhadap situasi Kotim yang dilanda karhutla, kabut asap dan kekeringan.
“Motivasi saya mengikuti Shalat Istisqa ini karena saya merasa prihatin dengan kondisi Kotim saat ini. Selama musim kemarau karhutla ada di mana-mana, belum lagi kabut asap dan kekeringan,” katanya.
Ketua PDM Kotim, I Wayan Alaf menjelaskan, Shalat Istisqa merupakan tuntunan dalam Islam, yang dilaksanakan ketika umat menghadapi kekeringan berkepanjangan. Menurutnya, ikhtiar menghadapi kondisi tersebut juga perlu diwujudkan melalui perbaikan perilaku dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ia mengajak masyarakat memperbanyak istighfar, bersedekah dan berbuat kebajikan sekaligus melakukan introspeksi terhadap hubungan manusia dengan alam. Kondisi kualitas udara yang memburuk, menurutnya, menjadi pengingat pentingnya menjaga lingkungan.
“Bukan hanya secara fisik kita lihat di sekitar kita kering kerontang, tetapi kualitas udara kita juga memburuk. Berdasarkan ISPU juga menunjukkan indeks yang berbahaya, bahkan sempat hampir 700,” jelas Wayan.
Wayan berharap, semakin banyak organisasi Islam dan masyarakat di Kotim yang turut melaksanakan Shalat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar bersama menghadapi kemarau dan bencana karhutla.
Pesan serupa disampaikan Khatib Shalat Istisqa, Alivermana Wiguna. Ia menekankan bahwa permohonan hujan harus disertai komitmen nyata, untuk menjaga alam dan mengevaluasi perilaku manusia yang dapat berdampak terhadap lingkungan.
“Kita harus betul-betul menjaga hutan dan tidak lagi menebangi hutan. Kalau kita menjaga alam, maka alam menjaga kita. Kalau kita abaikan, alam juga akan mengabaikan kita,” tuturnya.
Editor : Juniardi


