SAMPIT, katakata.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berdampak terhadap keberlangsungan satwa liar. Ketika habitat terbakar, satwa kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan, sehingga terpaksa berpindah mencari lokasi yang lebih aman.
Kondisi tersebut terpantau di sejumlah wilayah yang terdampak karhutla. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit, menerima laporan mengenai satwa dilindungi yang terdampak kebakaran, baik yang berhasil dievakuasi maupun ditemukan dalam kondisi mati.
Di Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau, misalnya, aktivis lingkungan menemukan sejumlah satwa menjadi korban setelah melakukan penyisiran kawasan yang terbakar. Satwa yang ditemukan antara lain pelanduk, rusa, burung raja udang, trenggiling, kucing hutan dan lutung abu-abu.
Dua ekor trenggiling bahkan ditemukan dalam kondisi hangus terbakar, di tengah habitat yang ikut rusak akibat kebakaran.
Kepala BKSDA Pos Sampit, Muriansyah mengatakan, ancaman terhadap satwa tidak hanya terjadi di satu lokasi. Setiap kawasan yang terbakar berpotensi menjadi tempat terdampaknya satwa liar, termasuk jenis yang dilindungi.
“Bukan hanya di Terantang, di tempat-tempat lain pun seperti di Kota Besi yang saat ini kejadian di Kandan, ada jenis orangutan, kucing hutan, trenggiling. Tapi hampir semua tempat kebakaran mengancam satwa liar, khususnya satwa liar yang dilindungi,” kata Muriansyah, Rabu (23/9/2026).
Dampak karhutla juga membuat satwa berisiko masuk ke kawasan permukiman. Salah satunya seekor kukang yang diduga tersengat listrik setelah keluar dari habitatnya untuk menghindari ancaman kebakaran. Meski sempat mendapat penanganan medis, satwa tersebut akhirnya mati.
Di sisi lain, sejumlah satwa masih berhasil diselamatkan dari lokasi terdampak. Dua orangutan induk dan anak, Raya dan Rayu, sebelumnya dievakuasi dari kawasan Jalan Sawit Raya, sekitar Hutan Kota Sampit, yang terdampak karhutla.
Seekor trenggiling juga berhasil diselamatkan dari lokasi kebakaran di Jalan Bumi Raya 1, Kecamatan Baamang. Satwa tersebut kemudian diserahkan kepada BKSDA Pos Sampit untuk mendapatkan penanganan sebelum akhirnya dilepasliarkan.
Laporan mengenai satwa terdampak juga datang dari wilayah Mentaya Hilir Utara dan Mentaya Hilir Selatan. Di wilayah tersebut dilaporkan terdapat orangutan dan beruang yang berpotensi terdampak kebakaran.
“Belum lagi Mentaya Hilir Utara dan Mentaya Hilir Selatan itu sama, ada dilaporkan orangutan dan beruang,” ujarnya.
Muriansyah menegaskan, perhatian terhadap satwa tidak hanya diperlukan ketika kebakaran terjadi di kawasan hutan. Semak belukar dan kebun masyarakat juga dapat menjadi habitat sementara bagi satwa liar untuk mencari makanan maupun berlindung.
“Jadi bukan cuma di hutan yang kita fokus. Di semak belukar pun saat ini satwa liar ada di situ,” ungkapnya.
Penulis/Editor : Juniardi


