SAMPIT, KATAKATA.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami lonjakan luas yang cukup signifikan. Dalam sehari, luas lahan terbakar bertambah lebih dari 710 hektare.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, hingga 15 Agustus 2026 luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 1.207 hektare. Sehari sebelumnya, luas karhutla tercatat 496,8 hektare.
Artinya, dalam kurun waktu satu hari terjadi penambahan sekitar 710,5 hektare atau meningkat sekitar 143 persen.
Lonjakan tersebut terutama dipengaruhi kebakaran yang terjadi di Kecamatan Seranau. Pada 14 Agustus, luas lahan terbakar di wilayah tersebut tercatat sekitar 3,5 hektare. Sehari kemudian, angkanya melonjak menjadi 703,5 hektare.
Dengan luasan tersebut, Seranau menjadi wilayah dengan kontribusi karhutla terbesar di Kotim, yakni sekitar 58,27 persen dari total lahan terbakar.
Selanjutnya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dengan luas 139,8 hektare atau sekitar 11,58 persen dan Kecamatan Baamang mencapai 114,6 hektare atau sekitar 9,49 persen.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam mengatakan, angka luasan tersebut masih berupa estimasi karena pengukuran dilakukan dengan mengutamakan kecepatan penanganan di lapangan.
“Itu masih angka estimasi. Luas lahan terbakar adalah area yang diukur saat kejadian yang dapat ditangani oleh petugas. Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data,” ujarnya, Minggu (16/8/2026).
Peningkatan juga terlihat dari jumlah kejadian karhutla. Pada 14 Agustus tercatat sebanyak 302 kejadian, kemudian bertambah menjadi 317 kejadian pada 15 Agustus.
Sementara itu, jumlah titik panas atau hotspot juga meningkat. Pada 15 Agustus tercatat sebanyak 2.983 titik, naik 276 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 2.707 titik.
Wakil Koordinator III Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim, Rihel mengatakan, kondisi di lapangan semakin menantang karena sejumlah titik api sulit dijangkau kendaraan dan jauh dari sumber air.
Salah satunya terjadi di Desa Batuah, Kecamatan Seranau. Akses menuju lokasi kebakaran disebut hanya dapat dilalui kendaraan roda dua, sehingga petugas harus menggunakan mesin apung serta selang panjang untuk menjangkau titik api.
“Termasuk di Desa Batuah, Kecamatan Seranau itu sama, yang di dekat RMU, di situ aksesnya sulit. Yang bisa masuk hanya unit roda dua. Berarti kita menggunakan mesin apung, selang harus panjang karena jarak sumber air dengan titik api sangat jauh,” ungkapnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Satgas mempertimbangkan pembuatan embung sementara di antara sumber air dan lokasi kebakaran. Skema ini memungkinkan air dipindahkan secara bertahap menggunakan beberapa unit pompa.
“Misalnya 500 meter, 500 meter bikin embung, baru pompa lagi. Paling tidak kita menggunakan tiga sampai empat unit pompa supaya imbang, tapi selangnya juga harus banyak dan panjang,” jelas Rihel.
Dengan lonjakan luas lahan terbakar dan bertambahnya titik kejadian, Satgas Karhutla Kotim masih terus memperkuat penanganan, terutama di wilayah yang memiliki akses sulit dan keterbatasan sumber air.
Editor: Juniardi


