SAMPIT, katakata.co.id – Intensitas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tinggi mulai berdampak terhadap kondisi kesehatan petugas di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, sempat dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami sesak napas.
Kondisi tersebut dialami Multazam, setelah terlibat langsung dalam penanganan karhutla di kawasan Jalan Lingkar Selatan pada Minggu (23/8/2026) malam.
Wakil Komandan Harian III Posko Karhutla dan Kekeringan Kotim, Rihel membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, Multazam diduga mengalami gangguan pernapasan setelah terpapar asap pekat di lokasi kebakaran.
“Jadi, ternyata setelah saya tanya ke petugas lain, dia menghadapi asap. Jadi, mungkin masuk hidung, dia sempat dua kali masuk, keluar, masuk lagi. Informasi yang saya terima via telepon, beliau mengalami rasa sesak napas,” ujar Rihel, Senin (24/8/2026).
Sesak napas tersebut membuat Multazam meminta bantuan kepada anak buahnya, untuk dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit. Ia kemudian mendapatkan penanganan medis hingga sekitar pukul 22.30 WIB.
Rihel menyebut, kondisi Multazam diduga juga dipengaruhi kelelahan. Aktivitas penanganan karhutla dalam beberapa hari terakhir membuat waktu istirahatnya sangat terbatas.
Sebelum turun melakukan pemadaman di Jalan Lingkar Selatan, Multazam diketahui baru tiba dari Palangka Raya sekitar pukul 01.30 WIB. Hanya berselang beberapa jam, sekitar pukul 04.00 WIB, ia kembali terlibat dalam penanganan karhutla di Jalan Metro TV.
“Jadi otomatis kan dia kurang tidur, kecapekan. Ditambah lagi waktu terakhir kemarin di Jalan Lingkar Selatan, menghadapi asap langsung berhadapan,” jelasnya.
Multazam juga diketahui terus berpindah dari satu lokasi karhutla ke lokasi lainnya untuk memantau penanganan. Beberapa lokasi yang didatangi memiliki kondisi asap cukup pekat.
Selain mengalami sesak napas, tekanan darah Multazam juga sempat tercatat cukup tinggi, mencapai 180/110.
“Beliau itu bisa dibilang aktif selama 24 jam sebenarnya. Jadi kami berdua kadang-kadang berbagi. Kalau dia ke selatan, saya ke utara. Kalau dia ke utara, saya ke selatan,” kata Rihel.
Setelah mendapatkan penanganan medis, Multazam disebut telah kembali ke rumah untuk beristirahat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam penanganan karhutla yang membutuhkan kerja panjang di lapangan. Rihel mengatakan, petugas telah diingatkan agar tidak memaksakan kondisi fisik dan tetap menyediakan waktu untuk beristirahat.
Petugas yang mulai mengalami kelelahan, juga mendapat dukungan vitamin melalui puskesmas. Selain menjaga waktu istirahat, petugas diingatkan mengonsumsi makanan bergizi dan mencukupi kebutuhan tubuh selama menjalankan tugas.
“Kalau saya biasanya melakukan istirahat cukup, tambah vitamin. Itu yang saya lakukan. Makan cukup, makanan yang bergizi, buah-buahan,” ujarnya.
Untuk mengurangi risiko akibat paparan asap, petugas pemadam juga dibekali perlengkapan pendukung, termasuk oksigen portabel yang dapat digunakan ketika kondisi di lapangan membutuhkan.
Editor : Juniardi


