SAMPIT, KATAKATA.CO.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Kondisi ini menyusul rendahnya peluang hujan yang diprakirakan terjadi hingga pertengahan September 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit mencatat, peluang curah hujan di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng), termasuk Kotim, masih sangat rendah.
Dalam rilis yang dikeluarkan Sabtu (22/8/2026), BMKG menyebut probabilitas curah hujan pada dasarian III Agustus atau periode 21–31 Agustus berada di bawah 10 persen.
Kondisi serupa diprakirakan berlanjut pada dasarian I September atau 1–10 September. Bahkan hingga dasarian II September atau 11–20 September, peluang curah hujan masih berada pada kategori yang sama.
“Prakiraan curah hujan probabilistik untuk wilayah Kalteng, dasarian III Agustus, Dasarian I September dan dasarian II September kurang dari 10 persen,” tulis BMKG dalam rilisnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena hampir seluruh wilayah Kalteng masuk dalam kategori sangat mudah terbakar pada peringatan dini karhutla periode 22–23 Agustus 2026. Kawasan dengan vegetasi gambut menjadi salah satu wilayah yang memiliki risiko tinggi.
Untuk wilayah Kotim sendiri, prakiraan cuaca 22–23 Agustus menunjukkan kondisi berawan tanpa adanya potensi hujan. BMKG juga tidak mendeteksi potensi pertumbuhan awan hujan yang signifikan.
“Prakiraan potensi pertumbuhan awan hujan di Kotim tanggal 22-23 Agustus 2026, berdasarkan Data Model Prediksi Cuaca Numerik secara umum tidak ada potensi pertumbuhan awan hujan,” lanjut BMKG.
Di tengah minimnya peluang hujan, aktivitas titik panas juga masih tinggi. Dalam pemantauan 24 jam terakhir, tercatat 452 hotspot di wilayah Kotim, dengan 28 titik di antaranya memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
Hotspot terbanyak terpantau di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dengan 189 titik. Berikutnya Kecamatan Mentawa Baru Ketapang sebanyak 92 titik dan Kecamatan Baamang sebanyak 75 titik.
Data tersebut sejalan dengan kondisi karhutla yang masih terjadi di lapangan. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, sejak Januari hingga 21 Agustus 2026 telah terjadi 420 kejadian karhutla.
Luas lahan yang terbakar mencapai lebih dari 1.412 hektare, sementara akumulasi hotspot sepanjang periode tersebut telah mencapai 6.793 titik.
Editor : Juniardi


