PALANGKA RAYA, katakata.co.id – Momentum Hari Raya Waisak 2569 BE/2026 M membawa kabar baik bagi sejumlah warga binaan pemasyarakatan di Kalimantan Tengah. Sebanyak 14 warga binaan beragama Buddha yang menjalani masa pidana di berbagai lembaga pemasyarakatan (Lapas) dan rumah tahanan negara (Rutan) menerima Remisi Khusus Waisak, Minggu (31/5/2026).
Pemberian remisi tersebut merupakan bentuk penghargaan dari negara kepada warga binaan yang dinilai telah menunjukkan perubahan perilaku positif selama menjalani masa pembinaan serta memenuhi syarat administratif dan substantif sesuai ketentuan yang berlaku.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Tengah, I Putu Murdiana, mengatakan bahwa remisi menjadi salah satu instrumen penting dalam sistem pemasyarakatan yang bertujuan mendorong warga binaan untuk terus memperbaiki diri.
“Remisi khusus Hari Raya Waisak ini merupakan bentuk apresiasi negara kepada warga binaan yang telah menunjukkan kepatuhan terhadap aturan serta kesungguhan dalam mengikuti program pembinaan yang diselenggarakan di dalam Lapas maupun Rutan,” ujar I Putu Murdiana.
Ia menjelaskan, para penerima remisi merupakan warga binaan yang aktif mengikuti program pembinaan, berkelakuan baik, dan telah menjalani masa pidana sesuai persyaratan yang ditetapkan peraturan perundang-undangan.
Dari 14 penerima remisi tersebut, besaran pengurangan masa pidana yang diberikan bervariasi, mulai dari 15 hari hingga 1 bulan 15 hari.
Selain remisi khusus keagamaan, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan juga memberikan remisi kepada warga binaan lanjut usia yang telah berumur di atas 70 tahun. Untuk kategori ini, pengurangan masa pidana yang diberikan berkisar antara 1 bulan hingga 5 bulan, sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurut I Putu Murdiana, manfaat remisi tidak hanya dirasakan dalam bentuk pengurangan masa hukuman, tetapi juga menjadi motivasi bagi warga binaan untuk mempertahankan perilaku positif selama menjalani pembinaan.
“Melalui pemberian remisi ini, kami berharap warga binaan semakin termotivasi untuk mempertahankan perilaku baik, meningkatkan kualitas diri, serta memanfaatkan seluruh program pembinaan yang tersedia sebagai bekal saat kembali ke lingkungan sosial,” katanya.
Ia menegaskan bahwa proses pengusulan hingga pemberian remisi dilaksanakan secara transparan, akuntabel, dan berdasarkan pemenuhan syarat yang telah ditentukan. Dengan demikian, hak warga binaan dapat diberikan secara tepat dan sesuai ketentuan hukum.
“Pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada aspek pembinaan selama menjalani pidana, tetapi juga memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Remisi menjadi salah satu instrumen penting dalam mendorong keberhasilan proses pembinaan tersebut,” tegasnya.
Pemberian remisi Hari Raya Waisak ini sekaligus menjadi cerminan komitmen pemerintah dalam mendukung proses pembinaan yang berorientasi pada rehabilitasi dan reintegrasi sosial warga binaan, sehingga mereka dapat kembali menjadi bagian produktif di tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pidananya.
Penulis : Wiyandri
Editor : Ardi


