SAMPIT, katakata.co.id – Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga memicu sejumlah kebakaran bangunan.
Sejak status tanggap darurat karhutla dan kekeringan diberlakukan pada 30 Juli 2026, sedikitnya delapan peristiwa kebakaran bangunan tercatat terjadi di sejumlah wilayah Kotim.
Rangkaian kejadian tersebut mulai terjadi pada 7 Agustus 2026, ketika sebuah rumah semi permanen di Jalan DI Panjaitan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, terbakar hingga ludes.
Empat hari kemudian, kebakaran lebih besar terjadi di Jalan Muchran Ali, Kecamatan Baamang. Empat rumah dan satu gudang hangus terbakar, sementara tiga bangunan lainnya turut terdampak.
Kebakaran bangunan kembali terjadi di Jalan Diponegoro, Gang Garuda 2, Kelurahan Kota Besi Hilir, Kecamatan Kota Besi pada 15 Agustus. Dua hari setelahnya, gudang penyimpanan alat tulis sekolah di Jalan SPG Permai, Mentawa Baru Ketapang, juga dilalap api.
Selanjutnya pada 21 Agustus, sebuah rumah kayu kosong di Jalan Pelita Barat, Gang Swadaya, Mentawa Baru Ketapang terbakar.
Rentetan kejadian berlanjut pada 25 Agustus. Dalam satu hari, dua bangunan terbakar, yakni bekas kandang babi di Jalan Pengaringan dan sebuah rumah di Jalan Batu Mutiara, Mentawa Baru Ketapang.
Terbaru, kebakaran terjadi di kawasan Perumahan Sinar Fajar pada 26 Agustus. Api membakar gudang produksi batako sekaligus tempat penyimpanan pupuk serta sebuah rumah yang juga difungsikan sebagai pangkalan elpiji.
Sejumlah kebakaran tersebut diduga terjadi di tengah kondisi lingkungan yang sangat kering. Bahkan, beberapa bangunan berada di sekitar kawasan yang sebelumnya dilanda kebakaran lahan.
Wakil Bupati Kotim, Irawati, mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena kondisi kemarau membuat api lebih mudah menyebar.
Ia meminta, warga yang memiliki lahan untuk rutin melakukan pengawasan. Rumah yang ditinggalkan juga sebaiknya dititipkan kepada tetangga agar kondisinya tetap terpantau.
Selain ancaman dari api di lahan, masyarakat juga diminta memperhatikan instalasi listrik dan peralatan elektronik sebelum meninggalkan rumah.
Irawati menyebut, korsleting listrik menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai, terutama pada rumah yang tidak berpenghuni.
Menurutnya, kebakaran bangunan di tengah maraknya karhutla juga dapat memperburuk persoalan kabut asap di Kotim. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan bersama, baik terhadap lahan maupun lingkungan tempat tinggal.
Editor : Juniardi


