SAMPIT, katakata.co.id – Akses masyarakat terhadap LPG 3 kilogram bersubsidi di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akan diperluas. Pemerintah daerah menargetkan tambahan 9.000 tabung LPG subsidi mulai disalurkan pada Oktober 2026.
Tambahan kuota tersebut diprioritaskan untuk enam kecamatan di wilayah utara Kotim yang hingga kini belum mendapatkan program konversi penggunaan minyak tanah ke LPG. Keenam wilayah itu yakni Kota Besi, Telawang, Mentaya Hulu, Bukit Santuai, Telaga Antang dan Antang Kalang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopukmperindag) Kotim, Muslih mengatakan, mekanisme pendistribusian tambahan kuota tersebut masih dibahas bersama Bagian Perekonomian.
“Jadi kita itu kemarin ada penambahan 9.000 untuk beberapa kecamatan di wilayah utara yang memang belum konversi dari minyak tanah ke gas. Untuk pelaksanaannya insyaallah di bulan Oktober,” ujar Muslih, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, tambahan pasokan tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan LPG bersubsidi sekaligus mengurangi kesenjangan distribusi antarkecamatan.
Pemerintah daerah menargetkan, tambahan tersebut dapat membantu membuat ketersediaan LPG 3 kilogram lebih merata di seluruh 17 kecamatan yang ada di Kotim.
“Harapan kita dengan tambahan sebaran 9.000 tabung gas elpiji tersebut, harga gas ini akan merata di 17 kecamatan di wilayah Kabupaten Kotim,” katanya.
Muslih berharap, distribusi yang lebih merata juga dapat membantu menekan perbedaan harga LPG bersubsidi di tingkat masyarakat. Pasalnya, saat ini harga LPG 3 kilogram masih ditemukan bervariasi antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Pemkab Kotim akan tetap melakukan pemantauan terhadap peredaran LPG subsidi, terutama terkait harga jual dan kesesuaian berat isi tabung dengan ketentuan.
“Kita akan selalu melakukan pemantauan berkaitan dengan harga yang memang untuk komoditi yang ada subsidi negara,” jelasnya.
Muslih mengakui, hasil pemantauan menunjukkan masih terdapat wilayah yang menjual LPG 3 kilogram sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun, di sejumlah kecamatan dan desa masih ditemukan harga yang berada di atas ketentuan.
“Sampai sekarang ini memang harga elpiji ini bervariasi di wilayah masing-masing kecamatan dan desa. Ada yang memang masih bisa kita pantau sesuai dengan harga yang dipersyaratkan, tapi memang ada juga yang tinggi,” ujarnya.
Editor : Juniardi


