SAMPIT, katakata.co.id – Berawal dari kebun sederhana, seorang petani melon di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, berhasil menyulap lahan pertaniannya menjadi destinasi agrowisata yang menarik minat banyak pengunjung. Tak hanya menawarkan rasa buah yang manis, wisata petik melon ini juga menyimpan kisah perjuangan dan ketekunan sang pemilik kebun.
Di hamparan kebun melon yang berada di Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 10 Sampit, Agus Toyan tampak telaten memilih buah melon di bawah terik matahari. Setiap buah diperiksa dengan cermat untuk memastikan tingkat kematangan dan kualitas rasa sebelum dipetik oleh pengunjung.
Agus mengungkapkan, dirinya bukanlah petani sejak awal. Ia pernah menekuni profesi sebagai mekanik motor. Namun sejak tahun 2014, Agus memutuskan banting setir dengan meneruskan usaha pertanian keluarga. Berbekal tekad dan belajar secara otodidak, ia mulai menekuni budidaya melon.
Melon kemudian menjadi komoditas utama yang dikelolanya. Hasil panen yang konsisten dengan kualitas rasa manis membuat para pengepul datang langsung ke kebun. Titik balik usaha ini terjadi pada musim panen Juni 2025, ketika Agus mencoba mempromosikan kebun melonnya melalui media sosial. Dari situlah lahir konsep wisata petik melon.
Pengunjung tidak hanya membeli melon, tetapi juga merasakan sensasi memetik langsung buah dari pohonnya. Pengalaman tersebut menjadi daya tarik utama. Pada pembukaan perdana, kebun melon ini ramai dikunjungi tanpa jeda, bahkan stok melon habis dalam waktu kurang dari sepuluh hari.
Dalam sehari, penjualan melon di kebun tersebut dapat mencapai dua hingga tiga kuintal. Pada momen tertentu, omzet penjualan bahkan mampu menembus puluhan juta rupiah. Melon lokal dijual dengan harga sekitar Rp15 ribu per kilogram, sementara melon impor jenis intanon dibanderol dengan harga lebih tinggi.
“Alhamdulillah, antusias masyarakat sangat tinggi. Mereka senang karena bisa petik langsung dan merasakan kualitas melon yang segar,” ujar Agus Toyan.
Hingga kini, wisata petik melon tersebut telah berjalan selama tiga kali musim panen, yakni pada bulan Juni, September, dan Desember. Pengunjung tidak hanya datang dari Sampit, tetapi juga dari berbagai daerah di sekitarnya.
Agrowisata petik melon ini tidak dibuka setiap hari, melainkan hanya saat musim panen tiba. Proses penanaman melon sendiri membutuhkan waktu hampir dua bulan, sehingga masyarakat yang ingin berkunjung diimbau untuk memantau jadwal pembukaan kebun tersebut.
Keberadaan wisata petik melon ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi petani lain untuk mengembangkan potensi pertanian lokal sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis agrowisata di Kotawaringin Timur.
Penulis : Mahsut
Editor : Ririen Binti


