SAMPIT, katakata.co.id – Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kondisi tersebut turut membuat kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.
Berdasarkan data aplikasi ISPUnet pada Minggu (23/8/2026) sekitar pukul 18.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kotim tercatat 111. Parameter yang menjadi perhatian adalah PM2.5.
Kondisi kabut asap terlihat di sejumlah ruas jalan, salah satunya Jalan Tjilik Riwut Sampit. Asap tampak mengurangi kejernihan udara dan membuat jarak pandang terasa terbatas.
Sejumlah warga mengaku kabut asap telah muncul dalam beberapa hari terakhir dengan waktu kemunculan yang tidak menentu. Kabut dapat terasa sejak siang hingga malam, namun pada hari lainnya justru lebih tebal pada pagi hari dan berangsur menipis saat siang.
“Kabut asap malam ini cukup tebal. Tidak bisa diprediksi kapan kabut asapnya muncul, kadang paginya cerah, tapi siangnya mulai kabut sampai malam. Kadang juga pagi asapnya tebal, tapi siangnya hilang,” ujar Nawir, warga Sampit.
Menurutnya, kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain aroma asap yang menyengat, mata juga terasa perih ketika berada di luar ruangan.
“Kalo sudah muncul asap bikin mata perih, baunya juga menyengat banget kada bikin susah napas. Pakai masker kalau keluar rumah, biar ngurangin dampak kabut asapnya,” katanya.
Kabut asap tersebut merupakan dampak dari karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim. Satgas Penanggulangan Karhutla hingga kini masih melakukan pemadaman dan penanganan titik api.
Berdasarkan data hingga 21 Agustus 2026, BPBD Kotim mencatat sebanyak 420 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai lebih dari 1.412 hektare.
Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan luas karhutla terbesar, yakni sekitar 703,5 hektare. Selanjutnya Mentawa Baru Ketapang dengan 250 hektare dan Baamang mencapai 139 hektare.
Editor : Juniardi


