SAMPIT,katakata.co.id – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menggencarkan upaya penanganan stunting yang hingga kini masih berada di angka 21,6 persen. Angka tersebut dinilai masih cukup tinggi dan belum memenuhi target nasional yang dipatok di bawah 14 persen.
Berbagai langkah pun diintensifkan, mulai dari edukasi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pemberian makanan tambahan (PMT), hingga intervensi gizi langsung di masyarakat. Kegiatan ini juga melibatkan lintas sektor, termasuk dukungan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial (CSR).
Penjabat Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi, mengatakan bahwa upaya pencegahan stunting terus dilakukan secara berkelanjutan oleh Dinas Kesehatan dengan menjangkau wilayah perkotaan hingga kecamatan.
“Program penggerakan masyarakat untuk pencegahan stunting ini rutin dilaksanakan, baik di dalam kota maupun wilayah kecamatan,” ujarnya saat kegiatan di Puskesmas Baamang 1, Rabu (22/4/2026).
Ia menegaskan, kegiatan tersebut tidak hanya sebatas sosialisasi, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif berbagai elemen di tingkat bawah, seperti camat, lurah, kepala desa, PKK, hingga kader Posyandu. Tujuannya agar edukasi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Menurut Umar, pemahaman masyarakat terkait 1.000 HPK menjadi kunci utama dalam mencegah stunting sejak dini.
“Stunting sudah dimulai sejak dalam kandungan. Asupan gizi ibu hamil harus benar-benar diperhatikan agar bayi lahir sehat dan berkembang optimal,” jelasnya.
Selain edukasi, intervensi langsung juga terus dilakukan melalui pemberian makanan tambahan oleh puskesmas dan pemerintah desa. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga diharapkan mampu memperluas jangkauan pemenuhan gizi masyarakat.
“Kalau berjalan maksimal, kita harapkan tidak ada kasus baru dan kasus yang ada bisa ditekan,” tambahnya.
Meski demikian, Pemkab Kotim masih menghadapi sejumlah tantangan di lapangan, terutama terkait pemahaman masyarakat dan kondisi ekonomi. Umar mengakui, meski partisipasi dari berbagai pihak cukup tinggi, masih ada masyarakat yang belum sepenuhnya memahami pentingnya pencegahan stunting.
“Antusiasme masyarakat sebenarnya tinggi, tapi pemahaman belum merata, ditambah kondisi ekonomi yang juga berpengaruh,” katanya.
Untuk itu, sinergi lintas sektor terus diperkuat dengan melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah, mulai dari sektor perikanan, pertanian, pendidikan, sosial hingga perdagangan.
“Penanganan stunting tidak bisa dilakukan sendiri, harus bersama-sama,” tegasnya.
Di sisi lain, kontribusi sektor swasta melalui CSR dan dukungan dana desa juga sudah mulai berjalan, meski dinilai masih perlu ditingkatkan. Peran perusahaan saat ini masih terbatas di wilayah operasional masing-masing dan belum terkoordinasi secara menyeluruh.
Umar menekankan bahwa stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, produktivitas, hingga daya saing daerah di masa depan. Oleh karena itu, penanganannya harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Sejalan dengan tema kegiatan, peran keluarga juga menjadi perhatian utama sebagai garda terdepan dalam pencegahan stunting. Pemerintah pun terus mendorong edukasi bagi ibu hamil, balita, hingga anak sekolah, termasuk melalui pemanfaatan pangan lokal bergizi.
“Posyandu kita dorong menjadi pusat gerakan pencegahan stunting, sementara keluarga menjadi kunci dalam membentuk generasi yang sehat dan cerdas,” tandasnya.
Pemkab Kotim berharap seluruh elemen masyarakat dapat terus bersinergi agar target penurunan stunting dapat tercapai dan melahirkan generasi unggul di masa mendatang.
Penulis : Ardi
EDitor : Ika


