PALANGKA RAYA, KATAKATA.CO.ID – Menjadi kehormatan dan kebanggaan bagi Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, ketika kegiatan seminar International Day of the World’s Indigenous Peoples 2025 Pumpung Hai Borneo (The Great Borneo’s Assembly) digelar di Kota Palangka Raya, mulai Tanggal 21-23 Agustus 2025.
Melihat dari tema yang diusung, yakni “Memperkuat Jati Diri Masyarakat Suku Bangsa Dayak untuk Masa Depan yang Bermartabat dan Berkelanjutan”. Tentunya kegiatan ini berguna untuk masyarakat Dayak di Pulau Borneo ini, tidak terkecuali untuk Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah.
Karena itu, melalui tulisan ini, penulis mendorong para peserta seminar menghasilkan keputusan, yang salah satunya adalah memastikan tidak ada lagi penyerobotan lahan milik masyarakat Dayak yang dilakukan Perusahaan perkebunan sawit tanpa ganti rugi.
Saat ini penulis dan beberapa Wartawan dari beberapa media sedang menyoroti dugaan penyerobotan lahan seluas kurang lebih 28 hektare milik tiga orang warga Dayak, yang dilakukan oleh salah satu Perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Kabupaten Katingan.
Ironisnya, untuk menutupi aktivitas ilegalnya, pihak Perusahaan membenturkan pemilik lahan yang asli dengan warga lainnya, dan mengeluarkan pernyataan bahwa lahan milik warga tersebut telah perusahan beli dari orang lain.
Namun setelah dilakukan cek lapangan, warga yang katanya telah menjual lahan tersebut menegaskan, bahwa lahan yang dijualnya letaknya jauh dari lahan sengketa.
Untuk menutup aksi ilegalnya atas lahan yang mereka serobot, pihak Perusahaan seakan-akan sudah membeli lahan tersebut, padahal lahan yang benar mereka beli berbeda objeknya. Sedangkan lahan seluas 28 hektare milik tiga warga Dayak tersebut belum pernah dijual oleh pemiliknya.
Sekali lagi, penulis mendorong, Peserta Seminar Pumpung Hai Borneo, harus melahirkan sikap, atau keputusan untuk melawan aksi penyerobotan lahan milik Masyarakat Dayak oleh Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit, maupun Perusahaan yang bergerak di bidang usaha lainnya. Salah satu langkah untuk membantu warga Dayak yang lahannya diserobot tanpa ganti rugi, adalah dengan cara, Dewan Adat Dayak, serta Perangkat Adat dari Kedamangan Setempat, bersama pemerintah Daerah membentuk Tim yang dikhususkan menangani penyerobotan lahan milik warga Dayak, sehingga ada efek jera bagi Perusahaan yang nakal.
Berdasarkan catatan penulis, masih banyak lahan masyarakat Dayak yang dirampas perusahaan tanpa ganti rugi.
Momen Seminar International Day of the World’s Indigenous Peoples 2025 Pumpung Hai Borneo (The Great Borneo’s Assembly) yang digelar di Kota Palangka Raya ini, menjadi kebangkitan masyarakat Dayak melawan kesewenangan yang dipertontonkan perusahaan- perusahaan nakal.
Ririen Binti
Pemimpin Redaksi


