PALANGKA RAYA, katakata.co.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memperkuat sinergi dalam upaya mitigasi bencana. Langkah tersebut dinilai penting mengingat karakteristik wilayah Palangka Raya yang memiliki potensi risiko bencana alam cukup tinggi.
Secara geografis, Kota Palangka Raya didominasi lahan gambut dan dilalui sejumlah aliran sungai. Kondisi ini menjadikan wilayah tersebut rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau, serta banjir saat curah hujan tinggi.
“Selama beberapa tahun terakhir, cuaca ekstrem, banjir, serta kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman serius bagi Palangka Raya. Dampaknya sangat luas, mulai dari kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan, hingga terhambatnya roda perekonomian,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Pauzi, Kamis (15/1/2026).
Ia menegaskan, masyarakat merupakan elemen penting sekaligus garda terdepan dalam meminimalkan dampak bencana. Untuk pencegahan karhutla, masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar serta aktif melaporkan temuan titik api atau hotspot kepada pihak berwenang.
Sementara itu, dalam mitigasi banjir, kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dinilai menjadi kunci utama.
“Tidak membuang sampah ke sungai dan saluran drainase, serta bergotong royong membersihkan saluran air, memiliki dampak besar dalam mengurangi risiko luapan air saat hujan deras,” tambahnya.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan konkret, Pemerintah Kota Palangka Raya terus mendorong pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana). Program ini bertujuan membangun ketangguhan masyarakat di tingkat lokal melalui kegiatan sosialisasi, pelatihan, dan simulasi kebencanaan yang melibatkan warga secara langsung.
Selain penguatan di tingkat kelurahan, edukasi kebencanaan sejak dini juga menjadi perhatian. Orang tua dan tenaga pendidik diharapkan dapat menanamkan budaya sadar bencana kepada anak-anak, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
“Mitigasi bukan hanya soal kebijakan pemerintah atau kecanggihan teknologi, tetapi juga soal kepedulian. Sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan sangat diperlukan agar budaya sadar bencana dapat tumbuh secara berkelanjutan,” tutupnya.
Penulis : Nopri
Editor : Zainal


