SAMPIT, katakata.co.id – Di tengah arus perubahan zaman yang semakin cepat, semangat generasi muda untuk menjaga warisan budaya leluhur tetap tumbuh. Hal ini ditunjukkan oleh Topan, seorang pelajar di Kabupaten Kotawaringin Timur, yang memilih melestarikan tradisi Babukung dengan membuat topeng adat.
Topan merupakan siswa SMA Negeri 1 Cempaga yang sejak usia remaja telah akrab dengan pahat dan kayu. Ia menekuni pembuatan topeng Babukung, yang digunakan dalam ritual upacara adat kematian masyarakat Dayak.
Dalam proses pembuatannya, Topan menggunakan kayu plantan yang dikenal ringan dan mudah diukir. Dari bahan tersebut, ia membentuk topeng Babukung dengan karakter kepala naga atau drarana. Salah satu karyanya dibuat untuk diikutsertakan dalam ajang perlombaan seni budaya.
Kemampuan Topan dalam membuat topeng Babukung diperoleh secara turun-temurun dari pamannya. Berawal dari sekadar melihat dan mencoba, kini ia telah beberapa kali membuat topeng Babukung yang digunakan langsung dalam pelaksanaan upacara adat.
Untuk menyelesaikan satu buah topeng Babukung, Topan membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Lama pengerjaan bergantung pada tingkat kesulitan, bentuk, serta karakter topeng yang dibuat.
Topan mengungkapkan, keikutsertaannya dalam lomba pembuatan topeng Babukung bukan semata-mata untuk berkompetisi, tetapi sebagai upaya menjaga dan melestarikan tradisi agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Melalui tangan generasi muda seperti Topan dan peserta lomba lainnya, tradisi Babukung tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penulis : Mahsut
Editor : Ririen Binti


