SAMPIT, katakata.co.id – Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih berubah-ubah seiring pergerakan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) telah menurun, kondisinya belum sepenuhnya stabil.
Koordinator Lapangan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Karhutla Kotim, Rihel mengatakan, perubahan nilai ISPU dapat terjadi dalam waktu singkat. Pergerakan asap menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut.
“ISPU itu masih fluktuatif. Makanya kadang-kadang kalau bisa membaca itu bisa melihat, misalnya dalam tempo jam saja bisa naik, bisa turun,” katanya, Senin (28/9/2026).
Menurut Rihel, asap yang menyelimuti Sampit tidak selalu berasal dari titik karhutla yang berada di dalam wilayah kota. Sebagian asap dapat terbawa angin dari sejumlah wilayah lain di Kotim.
“Pengaruhnya kan dari asap. Kemudian sumber asap juga kita kan ada dari lokal Sampit, ada yang dari kiriman,” ujarnya.
Ia menyebut, wilayah seperti Seranau, Pulau Hanaut dan Teluk Sampit dapat menjadi sumber asap yang kemudian terbawa menuju kawasan perkotaan. Ketika asap kiriman bercampur dengan asap dari kebakaran lokal, konsentrasi polutan di udara dapat meningkat.
Kondisi tersebut semakin terasa ketika kecepatan angin rendah. Asap yang sudah berada di kawasan kota tidak segera menyebar sehingga menumpuk dan membuat udara menjadi lebih pekat.
“Setelah dia sampai kota, kecepatan angin atau tidak ada angin, akhirnya menetap di kota. Itu yang membuat makin tebalnya asapnya dan ISPU naik bahkan sampai 1.000 lebih,” jelasnya.
Perbedaan sebaran asap tersebut juga membuat kondisi jarak pandang tidak sama di setiap wilayah. Rihel menyebut, terdapat lokasi yang jarak pandangnya masih mencapai sekitar 1 hingga 2 kilometer, sementara di wilayah lain hanya sekitar 400 hingga 600 meter.
Saat ini, nilai ISPU di Kotim disebut telah mengalami penurunan hingga berada di kisaran 200. Namun, angka tersebut belum menunjukkan kondisi udara yang ideal.
“Sebenarnya yang aman ISPU di bawah 50. Yang paling parah kan pernah di atas 1.000, biasanya sekitar 400, 300,” pungkasnya.
Dengan kondisi ISPU yang masih fluktuatif, perubahan kualitas udara di Kotim masih sangat bergantung pada perkembangan karhutla, arah pergerakan asap serta kondisi angin di wilayah setempat.
Penulis/Editor : Juniardi


