PALANGKA RAYA, katakata.co.id – Kabut asap yang menyelimuti Kota Palangka Raya mulai berdampak terhadap operasional penerbangan di Bandar Udara Tjilik Riwut. Meski penerbangan masih berjalan, penurunan jarak pandang menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat kelancaran penerbangan.
General Manager (GM) Kantor Cabang PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, I Made Darmawan, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap kondisi cuaca dan jarak pandang bersama seluruh stakeholder penerbangan.
“Operasional penerbangan masih berjalan, namun kondisi kabut asap dan penurunan jarak pandang dapat berdampak terhadap kelancaran operasional penerbangan, khususnya ketika jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional,” kata I Made Darmawan, Sabtu (29/8/2026).
Berdasarkan monitoring periode 1–29 Agustus 2026, tercatat lima observasi jarak pandang di bawah 1.000 meter. Jarak pandang terendah tercatat hanya 300 meter pada 29 Agustus 2026 sekitar pukul 09.00 WIB.
Kondisi tersebut telah berdampak terhadap sejumlah penerbangan. Dalam periode yang sama, tercatat lima kejadian atau movement penerbangan terdampak yang melibatkan empat nomor penerbangan, dengan total keterlambatan mencapai 290 menit.
Selain keterlambatan, tercatat satu kejadian Return to Base (RTB), satu Go Around, satu Holding, satu penerbangan standby menunggu perbaikan kondisi cuaca, serta satu penerbangan yang masih menunggu keberangkatan dari bandar udara asal atau Waiting at Origin.
“Untuk pembatalan penerbangan, berdasarkan data monitoring yang kami miliki sampai dengan saat ini belum terdapat data pembatalan penerbangan yang disebabkan oleh kabut asap,” jelasnya.
Ia menegaskan, keputusan terkait keberangkatan, pendaratan, holding, maupun RTB merupakan kewenangan penerbang dan operator penerbangan dengan mempertimbangkan kondisi aktual serta batas keselamatan penerbangan.
Menurutnya, kondisi jarak pandang bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu, terutama akibat kabut asap dan kondisi cuaca. Apabila jarak pandang berada di bawah batas minimum yang dipersyaratkan, penerbangan dapat mengalami penundaan, holding, go around, hingga RTB.
“Keselamatan penerbangan merupakan prioritas utama. Setiap keputusan operasional selalu mempertimbangkan kondisi cuaca dan jarak pandang aktual serta ketentuan keselamatan penerbangan yang berlaku,” tegasnya.
Mengantisipasi kemungkinan kabut asap semakin pekat, Bandara Tjilik Riwut terus melakukan monitoring cuaca dan jarak pandang serta memperkuat koordinasi dengan AirNav Indonesia dan maskapai penerbangan.
Bandara juga memastikan kesiapan personel dan fasilitas operasional. Apabila terjadi penurunan jarak pandang yang signifikan, kondisi aktual tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan langkah operasional penerbangan.
“Kami mengimbau kepada seluruh calon penumpang untuk tetap tenang dan memantau informasi penerbangan secara berkala melalui kanal resmi maskapai maupun Bandara Tjilik Riwut,” pungkasnya.
Penumpang juga diminta tetap datang ke bandara sesuai ketentuan waktu yang ditetapkan dan mengikuti arahan petugas apabila terjadi perubahan jadwal penerbangan.
I Made menambahkan, penyesuaian operasional penerbangan dilakukan semata-mata untuk memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan. Masyarakat juga diimbau bersama-sama menjaga kualitas udara serta tidak melakukan aktivitas yang dapat memperparah kebakaran hutan dan lahan.
Penulis : Wiyandri
Editor : Ardi


