SAMPIT, KATAKATA.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menjadi perhatian. Kondisi cuaca yang panas dan vegetasi yang kering membuat sejumlah kebakaran terjadi di sekitar kawasan permukiman, bahkan sempat mengancam fasilitas pendidikan.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim mencatat, sejak 1 hingga 9 Agustus 2026 terdapat sedikitnya 27 kejadian karhutla yang lokasinya berada dekat dengan permukiman masyarakat.
Kepala Disdamkarmat Kotim, Akhmad Taufik mengatakan, seluruh kejadian tersebut berhasil ditangani petugas bersama tim gabungan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kotim, sehingga api tidak sampai merembet ke rumah warga.
“Terhitung mulai tanggal 1 Agustus sampai tanggal 9 kemarin, yang mendekati permukiman ada 27 kejadian. Semuanya sudah selesai, sudah kita padamkan,” kata Taufik, Senin (10/8/2026).
Kebakaran yang berada dekat dengan permukiman tersebut tersebar di sejumlah wilayah, terutama di kawasan perkotaan seperti Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang.
Ancaman karhutla juga sempat terjadi di sekitar fasilitas pendidikan. Salah satunya berada di dekat sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kecamatan Kota Besi. Api yang mendekati kawasan sekolah tersebut berhasil ditangani sebelum meluas.
“Di dekat SMK di Kota Besi kemarin ada juga, kebakaran sempat mendekati sekolah, tapi itu sudah berhasil kami tangani juga,” ungkapnya.
Menurut Taufik, kawasan permukiman yang berbatasan langsung dengan lahan kosong maupun lahan yang dipenuhi semak belukar menjadi salah satu lokasi yang cukup rawan terjadi karhutla.
“Biasanya permukiman-permukiman yang berada di tepi lahan-lahan yang terbengkalai, lahan-lahan yang sudah tidak aktif. Biasanya di situ,” ujarnya.
Meski sejumlah kejadian berada dekat permukiman, hingga kini belum ada laporan rumah warga yang terbakar akibat rembetan karhutla. Namun, beberapa pondok yang tidak berpenghuni sempat ikut terbakar.
Kecepatan laporan masyarakat juga dinilai menjadi faktor penting dalam mencegah api meluas. Begitu menerima informasi, petugas langsung bergerak menuju lokasi kejadian.
“Kurang dari 15 menit sudah insya Allah sudah sampai di lapangan,” katanya.
Taufik menyebut, sejumlah kebakaran di sekitar permukiman diduga berkaitan dengan aktivitas manusia, seperti puntung rokok yang masih menyala, pembakaran sampah, hingga pembakaran lahan. Kondisi tersebut semakin mudah memicu api merambat karena cuaca panas dan vegetasi yang kering.
“Mungkin dugaan ada puntung rokok masyarakat atau sengaja membakar sampah-sampah kecil, akhirnya merambat,” jelasnya.
Disdamkarmat Kotim mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi kemarau. Masyarakat diminta sementara waktu tidak melakukan pembakaran sampah maupun membersihkan pekarangan dengan cara dibakar, mengingat kondisi lahan yang sangat mudah terbakar.
Upaya pencegahan dinilai penting, agar kebakaran tidak berkembang dan mengancam permukiman maupun fasilitas umum di tengah meningkatnya kejadian karhutla di Kotim.
Editor: Juniardi


