PALANGKA RAYA, katakata.co.id – Sekolah Rakyat Palangka Raya terus berinovasi dalam sistem pendidikan berbasis asrama mulai menerapkan pendekatan kurikulum terpadu yang menggabungkan Kurikulum Nasional, Kurikulum Asrama, dan Kurikulum Multi Entry Multi Exit (Meme) guna memperkuat karakter serta kemandirian siswa.
Kepala Sekolah Rakyat Palangka Raya, Ranny Triayu Sintha, mengatakan penerapan tiga kurikulum ini dilakukan agar proses belajar dapat menyesuaikan dengan karakter dan kebutuhan peserta didik yang tinggal di lingkungan asrama.
“Pendekatan ini bukan hanya soal akademik, tetapi juga pembentukan karakter, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Kami ingin anak-anak tidak hanya pintar, tapi juga memiliki kepribadian yang kuat dan berakhlak,” ujarnya, Sabtu (11/10/2025).
Selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung dua minggu, siswa dibiasakan dengan rutinitas harian seperti belajar mandiri, menjaga kebersihan diri, beribadah sesuai agama masing-masing, serta menumbuhkan rasa kebersamaan.
“Nilai-nilai seperti sopan santun, kemandirian, dan gotong royong kami tanamkan sejak awal agar menjadi kebiasaan,” tuturnya.
Dalam aspek kesehatan, Sekolah Rakyat Palangka Raya bekerja sama dengan Puskesmas Marina untuk memberikan layanan pemeriksaan rutin dan pengawasan kesehatan dasar bagi siswa seperti vitamin, antiseptik, dan penurun panas juga disediakan di asrama.
“Dengan sistem asrama, pemantauan kesehatan menjadi prioritas. Kami ingin setiap anak tumbuh sehat, nyaman, dan terlindungi,” ungkapnya.
Dari sisi gizi, pihak sekolah menyiapkan menu makan bergizi tiga kali sehari disertai snack, serta memberikan variasi minuman sehat seperti teh hangat dan susu.
“Asupan gizi seimbang menjadi bagian penting dari pola asrama kami,” jelasnya.
Keamanan lingkungan asrama turut dijaga oleh Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang bertugas selama 24 jam untuk memastikan kegiatan siswa berjalan tertib dan aman.
“Tagana ikut berperan penting menjaga ketertiban dan rasa aman di lingkungan asrama,” terangnya.
Ranny mengakui, pada awal masa asrama, sebagian siswa sempat mengalami kerinduan terhadap keluarga, mamun kini mereka mulai beradaptasi dan merasa betah.
“Pada minggu pertama memang ada yang menangis karena rindu rumah. Tapi sekarang mereka sudah mulai nyaman, bahkan antusias mengikuti kegiatan belajar,” katanya.
Untuk menjaga komunikasi antara siswa dan orang tua, sekolah menyediakan fasilitas video call agar anak tetap dapat berinteraksi dengan keluarga.
“Kami ingin anak-anak merasa dekat meskipun jauh dari rumah. Guru dan pengasuh di sini menjadi sosok pengganti orang tua selama di asrama,” ucapnya.
Kini memasuki minggu ketiga, siswa mulai menjalani pemantapan akademik melalui uji baca tulis sebagai bagian dari pemetaan kemampuan dan minat belajar.
“Kami ingin setiap anak belajar sesuai potensinya dan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri,” pungkasnya. (pri/red)


