Penulis/Editor: Ririen Binti
PALANGKA RAYA, katakata.co.id- Klaim manis PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan yang sesumbar menyatakan stok BBM Pertamax aman hingga 5,5 hari ke depan patut dipertanyakan.
Fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang bertolak belakang, pernyataan resmi tersebut diduga hanyalah janji manis untuk menutupi ketidakberdayaan distribusi.
Pantauan di SPBU Jalan G. Obos (Simpang Raya Galaxy), Kota Palangka Raya pada Jumat (8/5/2026) siang, memperlihatkan pemandangan ironis. Alih-alih melayani masyarakat, plang “Habis” justru terpampang. Hasbullah, pengawas SPBU setempat, mengakui stok Pertamax ludes dan pengiriman yang dijanjikan tak kunjung datang hingga sore hari.
“Pertamax habis, masih menunggu pengiriman” kata Hasbullah.
Dampak dari amburadulnya distribusi ini sangat nyata. Antrean kendaraan mengular, sehingga menyita produktivitas warga. Salah satu “korban”, M. Riswan, seorang mahasiswa, mengaku harus mengantre hingga 2 jam. Mirisnya, demi beberapa liter Pertalite, ia terpaksa melewatkan kewajiban salat Jumat. Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa kelangkaan BBM telah merambah hingga ke ranah sosial-religius masyarakat.
“Saya sudah mengantre selama 2 jam, dan terpaksa tidak salat Jumat, demi mendapatkan beberapa liter pertalite” tutur Riswan.
Merespons ketimpangan antara klaim dan realita ini, Ketua PWI Kalimantan Tengah, M. Zainal, melayangkan kritik keras. Ia mendesak Pertamina berhenti memproduksi narasi yang membingungkan.
“Jangan sampai masyarakat dibodohi dengan data di atas kertas. Di satu sisi disebut aman, tapi rakyat harus ‘berdarah-darah’ menunggu berjam-jam. Pertamina harus transparan, ada apa sebenarnya dengan distribusi ini?” tegas Zainal dalam pernyataan resminya.
Sementara itu, Ketika dikonfirmasikan Wartawan, terkait habisnya stok pertamax di SPBU jalan G. Obos, tepatnya di simpang jalan Raya Galaxy Raya, Kota Palangka Raya, Dony Prasetyom Sales Komrel (Communication & Relations) Pertamina wilayah Kalimantan Tengah, belum memberikan jawaban.


