PALANGKA RAYA,katakata.co.id- Inflasi di Provinsi Kalimantan Tengah tercatat rendah pada Juni 2025, 0,32% (mtm) dan 1,06% (yoy), menurut BPS masih di bawah target nasional. Namun, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) tetap siaga terhadap potensi kenaikan harga, terutama komoditas pangan.
Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko mengatakan, ada beberapa strategi pengendalian inflasi dan Road Map TPID Kalimantan Tengah (2025-2027).
“Kami menekankan pentingnya kewaspadaan meskipun inflasi rendah, berharap semua daerah mampu mengendalikan inflasi dengan baik,” Kata Yuas Elko saat memimpin rapat koordinasi, Rabu (9/7/2025).
Ia menambahkan, Strategi pengendalian inflasi difokuskan pada tiga pilar: peningkatan pasokan, diversifikasi sumber komoditas, dan kelancaran distribusi. Pemprov Kalteng berkomitmen meningkatkan produksi pangan melalui penyediaan bibit unggul, pelatihan petani, dan optimalisasi lahan.
“Diversifikasi sumber komoditas bertujuan mengurangi ketergantungan pada satu sumber pasokan, sementara kelancaran distribusi akan ditingkatkan melalui perbaikan infrastruktur,” ucapnya.
Pembangunan infrastruktur pertanian (irigasi, penyimpanan pasca panen) dan program “Kampung Multikultural” juga diprioritaskan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
Pengendalian inflasi memerlukan koordinasi dan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Kerja sama yang kuat akan menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat Kalimantan Tengah.
Perum Bulog Divisi Kalimantan Tengah juga menyampaikan Kurangnya ketersediaan mesin pengering gabah menjadi kendala dalam peningkatan hasil pangan. Bulog meminta pemerintah menambah investasi mesin pengering gabah (Dryer) untuk meningkatkan ketahanan pangan.di Kalimantan tengah.
Meskipun Bulog Kalteng telah menunjukkan kinerja positif dengan menyerap gabah dari 13.000 petani dan memiliki stok beras 18.000 ton, kekurangan infrastruktur pengeringan gabah menjadi kendala serius. (dri/red)


