PALANGKA RAYA,katakata.co.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat pengecer mulai dikeluhkan warga Kota Palangka Raya. Dalam pantauan pada Rabu (6/5/2026), harga Pertalite dan Pertamax di sejumlah lapak pinggir jalan melonjak tajam dibandingkan harga normal.
Kenaikan tersebut terpantau di berbagai ruas jalan, seperti Jalan Tjilik Riwut, Jalan G. Obos, Jalan Kinibalu, hingga kawasan Bukit Keminting. Di lokasi-lokasi tersebut, harga BBM eceran disebut jauh di atas harga resmi SPBU.
Salah satu pengecer di Jalan Kinibalu, Ani (52), mengaku terpaksa menaikkan harga karena sulitnya memperoleh pasokan BBM. Ia menjual Pertalite seharga Rp16.000 per botol dan Pertamax Rp19.000 per botol.
“Harga kami naikkan karena antrean di SPBU sangat panjang. Waktu dan tenaga juga jadi pertimbangan,” ujarnya.
Kenaikan ini tergolong signifikan. Sebelumnya, Pertalite eceran umumnya dijual di kisaran Rp12.000–Rp13.000 per botol, sementara Pertamax sekitar Rp15.000 per botol.
Menanggapi kondisi tersebut, Sales Area Manager Retail Kalimantan Tengah, Donny Prasetya, menjelaskan bahwa saat ini tengah dilakukan pembatasan penyaluran BBM. Kebijakan itu merupakan hasil koordinasi antara pemerintah daerah dan pihak Pertamina.
“Langkah ini diambil untuk menjaga kuota serta mencegah potensi penyalahgunaan BBM oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, termasuk pelangsir,” jelasnya.
Di sisi lain, lonjakan harga di tingkat pengecer memicu keluhan dari masyarakat. Warga dihadapkan pada pilihan sulit antara mengantre lama di SPBU atau membeli BBM dengan harga jauh lebih mahal di kios eceran.
“Sangat memberatkan, apalagi kalau sedang buru-buru kerja. Mau tidak mau beli eceran, tapi harganya sudah terlalu tinggi,” ungkap seorang pengendara di kawasan Jalan Kinibalu.
Hingga kini, antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Palangka Raya masih terlihat panjang. Sementara itu, pengawasan terhadap praktik penjualan BBM eceran terus menjadi perhatian publik.
Penulis : Wiyandri
EDitor : Ardi


