PALANGKA RAYA, katakata.co.id – Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, menegaskan pentingnya menjaga etika dalam menyampaikan pendapat di ruang publik. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri peringatan HUT ke-16 GERDAYAK Indonesia yang digelar di Hotel Bahalap, Palangka Raya, Sabtu (6/6/2026).
Dalam sambutannya, Agustiar Sabran menekankan bahwa kritik terhadap pemerintah, baik kepada presiden maupun kepala daerah, merupakan bagian dari demokrasi yang harus dihormati. Namun, ia mengingatkan agar kebebasan berpendapat tidak berubah menjadi tindakan yang melanggar etika dan merendahkan martabat orang lain.
“Kritik yang membangun harus kita dukung. Kami sebagai pejabat publik memang perlu diawasi dan dikritik agar tidak terlena dalam menjalankan tugas. Karena kami digaji oleh rakyat,” ujarnya di hadapan peserta perayaan HUT GERDAYAK.
Meski demikian, gubernur menyoroti adanya kecenderungan sebagian pihak yang menurutnya mulai melampaui batas kebebasan berekspresi dengan menyerang identitas maupun kehormatan seseorang. Ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat dibenarkan dan harus menjadi perhatian bersama.
Agustiar juga meminta aparat kepolisian untuk menyampaikan kepada pemerintah daerah apabila terdapat pihak atau kelompok yang dinilai berpotensi menimbulkan keresahan melalui tindakan yang tidak sesuai dengan norma dan etika. Menurutnya, organisasi kemasyarakatan dapat berperan dalam melakukan pengawasan sosial guna menjaga situasi tetap kondusif.
Ia menambahkan bahwa demokrasi yang sehat harus dibangun melalui kritik yang disertai solusi dan niat baik untuk memperbaiki keadaan, bukan melalui ujaran yang bersifat menghina atau memecah belah masyarakat.
Pernyataan tersebut mendapat perhatian peserta yang hadir dalam peringatan HUT ke-16 GERDAYAK Indonesia, yang turut dihadiri unsur Forkopimda, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta pengurus dan anggota GERDAYAK dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah.
“Kalau menyampaikan kritik untuk membangun, ayo kita dukung. Karena kami perlu diawasi dan dikritik. Tetapi ketika sudah melanggar etika, tentu tidak bisa dibiarkan,” tegas Agustiar Sabran.
Penulis Wiyandri
Editor : Ardi


