Oleh: Ririen Binti
Pemimpin Redaksi
Merosotnya prestasi atlet Kalimantan Tengah yang berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-21, yang digelar di Sumatera Utara dan Aceh yang berakhir tanggal 20 September bulan lalu, masih menyisakan kekecewaan bagi banyak pihak, terutama para penggiat olahraga dan mantan pengurus KONI Kalteng.
Saat melepas kontingen PON Kalteng, Gubernur Sugianto Sabran mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan tim dan mengatakan Pemprov Kalteng telah mengalokasikan dana sebesar Rp50 miliar untuk mendukung keikutsertaan dalam PON.
Salah satu tokoh olahraga Kalteng, yang juga mantan ketua Umum KONI Kalteng, Christian Sancho, sangat sedih dan kecewa bahkan menyesal, melihat hasil pencapaian tim Kalteng yang sangat jauh dari target yang ditentukan.
“Untuk anggaran Rp50 miliar dan target meraih 7 medali emas, dengan hasil yang sekarang, hanya memperoleh satu medali emas, Sembilan medali perak dan tiga perunggu, sangat-sangat jauh dari apa yang ditargetkan “ ungkap Sancho.
Sancho menegaskan, kegagalan ini merupakan kesalahan Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Pemuda dan Olahraga, dan Kepala Daerah, dan ini peringatan keras untuk pengurus Cabor dan pengurus KONI, karena mengelola olahraga itu ada tahapannya dan mereka harus mengerti cabor dan atlet yang yang dibinanya.
Sementara itu Marcos Tuwan, mantan pengurus KONI Kalteng yang membidangi pembinaan prestasi, merasakan hal yang sama, yaitu rasa kecewa atas hasil yang diperoleh tim Kalteng yang menurun dari PON ke-20 di Papua, dengan anggaran Rp11 miliar, Kontingen Kalteng saat itu, berhasil meraih dua medali emas, enam medali perak dan lima medali perunggu.
“Saya mendorong pengurus KONI untuk melakukan evaluasi, karena olahraga di ajang PON adalah olahraga prestasi bukan rekreasi, yang ukurannya adalah prestasi untuk meraih medali emas “ tegas Marcos.
Kegelisahan yang sama juga dirasakan oleh Ahia Novie, penggiat olahraga bola basket Palangka Raya, yang sangat menyayangkan, ketika ada dukungan dana besar, namun tidak diimbangi prestasi yang meningkat. Menurutnya, tata Kelola dalam mempersiapkan atlet yang belum tepat sasaran, dan ini harus dipertanggung jawabkan oleh KONI, karena pemerintah sudah mengeluarkan dana yang sangat besar yang salah satunya berasal dari pajak-pajak yang dibayar Masyarakat.
“Pemerintah dan KONI, serta pengurus cabor perlu berkaca, bagaimana pembinaan olahraga selama ini, dengan dana sebesar itu mengapa prestasi justru merosot, dan sangat wajar Masyarakat mempertanyakan menurunnya prestasi atlet Kalteng yang didukung dana yang sangat besar“ tegas Novi.
Sementara itu, kepada Wartawan, Sekretaris Umum KONI Kalteng, llham Busra mengatakan, anggaran yang dikelola KONI dari Pemprov Kalteng, untuk tahun 2024, dalam rangka menghadapi PON dan pembinaan olahraga sebesar Rp50 miliar, namun dari Rp50 miliar tersebut yang digunakan untuk PON sebesar Rp30 miliar.
“Terkait prestasi tim Kalteng, dari jumlah medali emas memang menurun, namun untuk medali perak dan perunggu ada peningkatan, dalam PON kali ini, ada beberapa cabor yang menggunakan atlet muda yang masa prestasinya masih panjang, sehingga penilaiannya bisa dilakukan saat kegiatan PON berikutnya di Nusa Tenggara Barat“ tutur Ilham.
Untuk meraih prestasi lebih baik saat PON berikutnya, penulis menyarankan, Pemerintah Provinsi dan KONI Kalteng jangan malu, “berguru“ ke Provinsi tetangga yang usianya masih sangat muda, yakni Provinsi Kalimantan Utara, yang pada tanggal 25 Oktober 2024, baru memasuki usia ke 12 tahun , namun prestasi mereka sangat bagus, dan berhasil meraih tiga medali emas, satu medali perak dan lima medali perunggu dalam PON ke-21 baru lalu.***


