SAMPIT, katakata.co.id – Kemarau panjang mulai berdampak langsung terhadap kebutuhan dasar masyarakat di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Dua desa di wilayah tersebut, kini mengalami krisis air bersih karena sumber air yang selama ini digunakan warga mulai menyusut hingga mengering.
Dua wilayah yang terdampak yakni Desa Bapanggang Raya dan Desa Bapeang. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama air untuk konsumsi, masyarakat kini mengandalkan pasokan yang didatangkan pemerintah maupun pihak lain.
Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah mengatakan, kedua desa tersebut menjadi wilayah yang saat ini paling terdampak persoalan air bersih di kecamatannya.
“Sementara ini hanya dua desa yang mengalami krisis air bersih, yaitu Desa Bapanggang Raya dan Desa Bapeang,” ujarnya, Jumat (4/9/2016).
Kondisi tersebut terjadi setelah debit sejumlah sumber air terus menurun akibat kemarau. Sumur gali, sumur bor hingga sungai yang sebelumnya menjadi sumber kebutuhan warga tidak lagi mampu menyediakan air dalam jumlah yang mencukupi.
Pemerintah kemudian memperkuat distribusi air bersih ke kedua desa tersebut. Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Mentaya Kotim, secara rutin mengerahkan dua mobil tangki untuk memasok air kepada masyarakat.
Penyaluran dilakukan tiga kali dalam sepekan. Bantuan tersebut menjadi salah satu tumpuan warga untuk memenuhi kebutuhan air selama kondisi kekeringan masih berlangsung.
Khusus Desa Bapeang, masyarakat juga mendapat tambahan pasokan dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan II Palangka Raya. Bantuan tersebut berupa dua tangki air yang disalurkan langsung ke rumah-rumah warga.
“Untuk di Desa Bapeang ada tambahan air bersih dari BWS Kalimantan II. Suplai air langsung ke rumah-rumah warga,” kata Irpansyah.
Sebanyak 122 kepala keluarga (KK) di Desa Bapeang tercatat mengalami krisis air bersih. Dalam pendistribusian bantuan, setiap keluarga memperoleh sekitar 200 liter air bersih.
Kondisi ini menunjukkan dampak kemarau tidak hanya berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga mulai menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat. Selama sumber air belum kembali normal, distribusi air bersih menjadi kebutuhan penting bagi warga di wilayah terdampak.
Editor : Juniardi


