SAMPIT, KATAKATA.CO.ID – Ketegasan untuk mengantisipasi bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus digaungkan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Bupati Kotim, Halikinnor, mewanti-wanti seluruh lapisan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara dibakar, lantaran konsekuensi hukum yang menanti amat berat.
Peringatan keras ini disampaikan Halikinnor usai mendampingi Kapolda Kalimantan Tengah (Kalteng), Irjen Pol Iwan Kurniawan, saat meninjau langsung area kebakaran lahan di Kotim pada Selasa (4/8/2026).
“Pemerintah mengimbau masyarakat jangan sampai melakukan pembakaran. Kemarin Pak Kapolda sudah tegas, setiap kasus akan diproses dan dimintai keterangan. Kalau memang sengaja membakar, kita ada undang-undang lingkungan hidup, maka itu menjadi pidana,” kata Halikinnor, Rabu (5/8/2026).
Halikinnor mengimbau, masyarakat untuk sadar akan dampak buruk Karhutla yang tidak hanya merusak ekosistem dan mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga bisa menyeret pelakunya ke bilik penjara.
“Jangan sampai karena sengaja membakar lahan, yang akhirnya harus berurusan dengan hukum dan masuk penjara. Saya mengimbau hal itu jangan sampai terjadi,” tegasnya.
Menurutnya, penanganan Karhutla di lapangan tidak bisa dipasrahkan sepenuhnya kepada aparat Pemkab, TNI, Polri, BPBD, maupun jajaran pemadam kebakaran semata. Partisipasi aktif warga lokal merupakan benteng terdepan agar kobaran api tidak kian membara.
Luasnya pemetaan area rawan Karhutla di Kotim yang tak sebanding dengan keterbatasan jumlah personel serta keterbatasan armada, menjadi alasan utama diperlukannya kesadaran kolektif dari masyarakat.
“Jadi, tolong mari sama-sama kita jaga. Yang sudah terjadi kita padamkan bersama, sedangkan yang belum terjadi jangan sampai terbakar lagi,” ajak Halikinnor.
Bupati turut meminta warga, untuk langsung tanggap melakukan tindakan pemadaman awal jika mendapati adanya percikan atau munculnya titik api kecil di sekitar tempat tinggal mereka.
“Saya meminta bantuan masyarakat. Kalau ada titik api yang masih kecil, segera dipadamkan sebelum membesar. Kalau sudah besar akan sangat sulit dipadamkan karena sebagian besar lahan kita merupakan lahan gambut,” ujarnya.
Ia menambahkan, operasi pemadaman di lapangan saat ini kian berat akibat terjangan musim kemarau. Menipisnya pasokan air membuat petugas kerap kesulitan menjangkau sumber air untuk memadamkan Karhutla.
“Air sekarang sudah sulit. Banyak embung yang kering, parit yang dulu masih ada air sekarang juga sudah kering. Kondisi ini menjadi tantangan besar dalam proses pemadaman,” terangnya.
Penulis/Editor: Juniardi


