PALANGKA RAYA, katakata.co.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Palangka Raya bersama aparat gabungan melaksanakan razia dan tes urine sebagai upaya meningkatkan deteksi dini serta mencegah gangguan keamanan dan ketertiban di lingkungan pemasyarakatan.
Kegiatan tersebut digelar pada Rabu (23/9/2026), melibatkan sejumlah unsur, yakni Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Tengah, Batalyon TP 830 Isen Mulang, Polresta Palangka Raya, Puskesmas Tangkiling, serta jajaran petugas Lapas Kelas IIA Palangka Raya.

Kepala Lapas Kelas IIA Palangka Raya, Hisam Wibowo, mengatakan razia tersebut dilaksanakan menindaklanjuti arahan pimpinan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan melalui Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
“Dalam kegiatan ini kami dibantu 14 personel dari BNN, 22 personel dari Batalyon TP 830, 10 personel dari Polresta, dua tenaga dari Puskesmas Tangkiling, serta seluruh petugas Lapas. Total ada 125 personel yang terlibat,” ujar Hisam.
Selain pemeriksaan kamar dan blok hunian, kegiatan juga disertai tes urine terhadap warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan petugas Lapas.
Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Kalimantan Tengah, Kombes Pol. Ruslan Abdul Rasyid, menyampaikan bahwa dari 755 WBP yang berada di Lapas Kelas IIA Palangka Raya, sebanyak 103 orang menjalani tes skrining urine.

“Hasilnya, 103 WBP yang dilakukan tes skrining dinyatakan negatif,” katanya.
Tes urine juga dilakukan terhadap 45 pegawai Lapas, termasuk Kepala Lapas Kelas IIA Palangka Raya. Seluruhnya dinyatakan negatif.

Sementara itu, dalam razia blok dan kamar hunian, petugas menemukan 12 unit telepon seluler. Namun, tidak ditemukan narkotika dalam pemeriksaan tersebut.
Hisam mengatakan razia akan terus dilakukan secara rutin dan menyeluruh sebagai bagian dari komitmen Lapas dalam mencegah peredaran narkoba maupun masuknya barang-barang yang berpotensi mengganggu keamanan.
“Tidak ada satu kamar pun yang terlewat. Kami berharap setelah razia ini kondisi Lapas semakin bersih. Komitmen kami adalah terus melakukan pemberantasan dan pencegahan narkoba,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan alasan petugas mengamankan sejumlah sendok berbahan logam yang ditemukan di dalam blok hunian. Menurutnya, benda tersebut dapat dimodifikasi menjadi senjata tajam sehingga penggunaannya di dalam blok perlu dibatasi.
“Yang diperbolehkan adalah sendok plastik yang tidak mudah dijadikan benda berbahaya. Kalau sendok stainless, bisa dimodifikasi menjadi senjata tajam, sehingga kami amankan,” jelasnya.

Hisam menambahkan, pihaknya terus memperkuat koordinasi dengan BNNP maupun BNNK dalam melakukan pencegahan dan pembinaan terhadap WBP. Informasi mengenai dugaan penyalahgunaan narkoba juga akan segera ditindaklanjuti bersama.
“Kami terus berkomitmen untuk tidak ada narkoba di dalam Lapas. Kalau ada informasi sekecil apa pun, tentu akan kami tindak lanjuti bersama BNN,” ujarnya.
Dari BNNP, apresiasi juga disampaikan atas hasil tes urine yang seluruhnya negatif. BNN menilai upaya pencegahan tidak hanya dilakukan melalui pemberantasan, tetapi juga melalui pembinaan dan pengawasan secara berkelanjutan.
Hisam menegaskan, pemeriksaan tidak dilakukan secara pilih-pilih. Seluruh blok dan kamar menjadi bagian dari razia, sementara tes skrining dilakukan sebagai pemeriksaan awal dan dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan lebih lanjut apabila ditemukan indikasi yang perlu ditindaklanjuti.
Ia berharap hasil negatif dari tes urine kali ini dapat terus dipertahankan, termasuk dengan memperketat pengawasan terhadap warga binaan yang baru masuk atau dipindahkan dari lapas lain.
“Setiap ada warga binaan baru, kami tetap melakukan pemeriksaan. Apabila ada informasi atau peringatan dari BNN mengenai orang yang perlu diwaspadai, kami akan langsung berkoordinasi dan melakukan langkah bersama,” pungkasnya.
Penulis : Wiyandri
Editor : Ardi


