SAMPIT,katakata.co.id – Meningkatnya intensitas banjir di sejumlah titik di Kota Sampit mendorong kalangan pemuda dan pegiat lingkungan mengambil langkah nyata. Mereka menggelar aksi bersih-bersih saluran air di kawasan Sei Keramat, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pada Minggu (10/5/2026).
Kegiatan gotong royong ini diikuti sekitar 50 orang, terdiri dari relawan pemuda, aktivis lingkungan, pihak kecamatan dan kelurahan, serta didukung armada dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim. Aksi tersebut difokuskan pada pembersihan drainase dan aliran sungai yang selama ini tersumbat sampah dan tanaman liar.
Menariknya, aksi sosial ini juga diikuti seorang wisatawan asal Norwegia yang turut turun langsung ke sungai bersama warga. Ia membantu mengangkat sampah hingga membersihkan eceng gondok yang menutupi aliran air.
Salah satu inisiator kegiatan, Harie, mengungkapkan bahwa aksi ini dilatarbelakangi keprihatinan terhadap kondisi lingkungan yang menjadi salah satu pemicu banjir, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah Sampit.
“Kami ingin memulai dari langkah sederhana. Drainase yang tersumbat sering dianggap sepele, padahal berdampak besar terhadap banjir,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Dalam kegiatan tersebut, para relawan membersihkan berbagai hambatan di aliran air, mulai dari semak belukar, tanaman rambat, hingga tumpukan sampah. Bahkan di beberapa titik, kondisi drainase nyaris tertutup sepenuhnya oleh vegetasi liar.
Harie menegaskan, kegiatan ini bukan untuk mencari pihak yang harus disalahkan, melainkan sebagai upaya membangun kesadaran bersama akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Masalah ini dirasakan bersama, jadi solusinya juga harus dilakukan bersama. Kami berharap masyarakat semakin peduli,” katanya.
Selain aksi bersih-bersih, para relawan juga memberikan edukasi kepada warga sekitar agar tidak membuang sampah ke sungai maupun drainase. Hal ini penting untuk mencegah penyumbatan yang berpotensi memicu luapan air saat hujan deras.
Kegiatan sempat diwarnai insiden tak terduga ketika relawan menemukan seekor ular piton sepanjang sekitar dua meter di semak-semak sekitar sungai. Hewan tersebut berhasil diamankan sebelum akhirnya dilepasliarkan ke habitat yang lebih aman, jauh dari permukiman warga.
Harie berharap aksi serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, mengingat masih banyak saluran air di Sampit yang membutuhkan perhatian.
“Kalau semakin banyak yang terlibat, dampaknya akan semakin besar. Lingkungan bersih, aliran air lancar, dan risiko banjir bisa ditekan,” tandasnya.
Penulis : Wiyandri
Editor : Ika


