SAMPIT, katakata.co.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) telah menyiapkan alat berat untuk membantu masyarakat membuka lahan tanpa menggunakan metode pembakaran. Fasilitas tersebut disediakan, agar alasan tingginya biaya sewa alat berat tidak lagi menjadi kendala bagi masyarakat.
Bupati Kotim, Halikinnor mengatakan, pemerintah daerah telah menyediakan satu unit excavator di setiap kecamatan. Alat tersebut dapat dimanfaatkan kelompok tani secara bergiliran untuk membantu pembukaan maupun pengelolaan lahan.
“Setiap kecamatan ada excavator, termasuk di wilayah kota. Kelompok tani menggunakannya secara bergiliran. Mereka hanya mengeluarkan biaya untuk operator, makan, dan BBM,” jelas Halikinnor, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, program penyediaan excavator tersebut telah dijalankan sejak periode pertama kepemimpinannya. Saat ini terdapat 17 unit yang disiapkan untuk mendukung masyarakat di berbagai wilayah Kotim.
Halikinnor menilai, keberadaan alat berat tersebut dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang hendak membuka lahan tanpa harus membakar. Sebelumnya, biaya sewa alat berat kerap menjadi salah satu alasan masyarakat memilih cara pembakaran.
“Yang dulu alasannya tidak bisa karena sewa mahal, sekarang kita bantu tanpa membayar. Tidak ada alasan lagi untuk membakar lahan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat, agar tidak menjadikan aturan mengenai pembukaan lahan dengan sistem sekat bakar sebagai pembenaran untuk melakukan pembakaran secara sembarangan.
Menurut Halikinnor, ketentuan dalam Peraturan Gubernur Kalimantan Tengah mengenai pembukaan lahan dengan sistem sekat bakar, memiliki persyaratan dan tidak dapat diterapkan tanpa memperhatikan kondisi. Terlebih saat ini Kotim masih menghadapi musim kemarau dan berada dalam status tanggap darurat bencana karhutla dan kekeringan.
“Memang selalu ada yang mengatasnamakan Pergub tentang boleh membakar dengan sistem sekat bakar. Tetapi ada ketentuannya, bahwa pada musim kemarau tidak diperbolehkan meskipun dijaga,” kata Halikinnor.
Ia menyebut, kebakaran yang terjadi di sekitar Kota Sampit tidak seluruhnya berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan untuk pertanian. Sebagian titik kebakaran berada di lahan tidak terurus yang dipenuhi semak belukar.
Halikinnor mengatakan, sebagian lahan tersebut bahkan dimiliki warga yang tinggal di luar daerah sehingga tidak terkelola dengan baik. Kondisi lahan yang dipenuhi semak dan berada di tengah musim kemarau membuatnya lebih rentan terbakar.
Karena itu, ia meminta masyarakat memahami aturan pembukaan lahan secara menyeluruh dan tidak mengambil satu ketentuan yang dianggap membolehkan pembakaran. Pemkab Kotim juga terus mendorong penggunaan alternatif yang telah disediakan untuk mengurangi risiko munculnya karhutla.
Penulis/Editor : Juniardi


